Aldriana putri
verdinan, seorang siswi kelas 1 SMA di salah satu sekolah negeri jakarta. gadis
ini hatinya belum pernah tersentuh oleh pria manapun. Aldriana biasa di panggil rana oleh teman-temannya itu, sangat menyukai
biola. Rana belum pernah berpacaran dan belum pernah jatuh cinta. Karena ia
lebih suka bermain biolanya. “ran, pulang sekolah nanti kita main kerumah ines
yuk?” ajakan fany, teman sebangku rana ketika bel pulang berbunyi. “aduuuh aku
ada les biola fan.. maaf ya” kata rana. Tak enak hati menolak ajakan fany
“yah.. okelah. Aku duluan ran” fany melambaikan tangan dengan cepat sambil
tersenyum. “hati-hati yaaa” senyum rana. Rana keluar kelas sendirian. Dan ada
pria datang dengan tergesah-gesah. Mereka saling bertabrakan tubuh. “maaf ya
maaf..” pria itu memungut buku-buku rana
yang terjatuh berantakan. “iya gak apa-apa kok” rana ikut memungut bukunya.
Mereka saling memandang setelah buku tertata rapih. Pria tampan itu memiliki
tinggi badan 176 cm. rana hanya tersenyum dan pergi. Pria itu bernama ara. Ara terus memandangi
rana dengan wajah senyum-senyum sendiri. Dan ikut pergi meninggalkan tempat
itu. rana di jemput oleh supirnya. Ia menuju tempat les biola. Rana memang
lincah memainkan biolanya. Ia paling jago di antara teman-teman lesnya. Aldriana
putri verdinan adalah gadis tajir. Namun ia tidak pernah menampakan kalau
dirinya anak orang kaya. Dan sesungguhnya ia adalah Gadis cantik apa adanya , sederhana,
juga rendah hati dan murah senyum. Gadis ini juga sangat tertutup, laki-laki
sangat sulit mendekatinya. karena rana orangnya diam dan tertutup. Kalau mengobrol
dengan teman-temannya hanya ikutan tertawa dan bicara yang penting saja, tapi
dia gadis yang baik. Teman-temannya sangat nyaman berteman dengan rana. Ia
tidak pernah pilih-pilih teman.
Jam istirahat..
rana jajan di kantin dengan teman-temannya. Ara fauzi mulai stalkerin rana. Ia
melihat rana hanya dari kejauhan saja. Ara adalah siswa kelas 2 SMA. Saat jam
istirahat ara bersama teman-temannya duduk di teras depan kelasnya. Ia tidak
ikut mengobrol dengan teman sebayanya, justru ia asik sendiri memandangi rana
dari kejauhan. Rana sedang makan pop mie
sambil mendengarkan temannya bercerita. Rana tertawa dan tidak sadar sedang
diperhatikan oleh orang lain. Ara masih sedikit senyum-senyum sendiri melihat
rana tertawa. “senyumnya.. ketawanya... wajah polosnya” kata hati ara masih
memandangi rana. Hatinya ingin sekali berkenalan. Tidak terasa bel masuk
berbunyi. Ara melihat rana beserta teman-temannya pergi masuk ke kelas. Dan
pria itu juga ikut masuk ke kelasnya.
Ara kembali
memperhatikan rana dari kejauhan. Rasa inginn berkenalan dengan rana semaikn
memuncak. “eh dia namanya siapa sih?” ara menunjuk rana. “oh dia itu namanya
rana. Kenapa? Lo suka ya?” ejekan temannya. “Oh.. rana” kata ara dengan pelan.
Rasa penasaran ara maju satu langkah. “hey.. boleh kenalan. Nama gue ara anak
kelas 2 ipa 5” mengulurkan tangannya. “indah” mereka berkenalan. “Indah.. lo
temennya rana kan?” tanya ara di tempat kantin. Pada saat gadis itu tidak
bersama atau tidak kumpul dengan rana dan kawan-kawan. “iya. Kenapa ra?”
jawabnya. “hhhmm.. gue boleh minta nomernya gak?” pintanya dengan senyuman.
“buat apa? Emangnya rana kenal sama lo juga?” tanyanya. “ya nggak sih. Gue
pengen kenalan aja sama rana. Boleh?” wajah memohonnya. “tapi gue tanya dulu
sama orangnya ya?” “yauda deh. Sekalian salamin ya dari gue. Eh gue boleh minta
nomer lo?” katanya sambil tersenyum. “oke.. gue duluan ya” indah memberikan nomernya dan langsung pergi
meninggalkan ara. Pria itu pergi dengan wajah senang.
Malam hari ara
kirim pesan ke indah. “hay indah.. ini gue ara. Gimana udah di salamin belum?”
send to indah. dan di balas. “udah.. ini nomernya. Tapi jangan di sebar ya”
“oke. Thanks ya J” send to indah.
“eh kalau boleh tau, lo suka ya sama
rana?” tanya indah lewat pesan. “iya. Gue suka sama dia. lo mau bantuin
gue comblangin gak?” “oke.. tapi ada syaratnya” “apa tuh?” “lo janji ya jangan
sakitin rana. Jujur.. dia itu belum pernah pacaran” “siap.. tenang aja ya
indah. gue janji kok” ara sudah mendapatkan nomer rana. Dan langsung sms gadis
itu. “met malam..” send to rana. “malam juga” di balas rana dengan emoticon
senyum. “ini rana ya? Boleh kenalan?” “iya aku rana. Kalau boleh tau kamu siapa?” “aku ara anak kelas 2 ipa 5” ara dan rana
asyik sms-san. Ternyata rana orangnya tidak sombong. Sampai esok pagi.. Di sekolah jam istirahat ara masih sibuk
sms-san dengan rana. Dari kejauhan ara memberitahu keberadaan dirinya kepada
rana. Dan rana mencari ke sudut-sudut kelas, ara melambaikan tangan. Rana
melihatnya dan sedikit malu-malu. ia membuang wajahnya. “kamu cantik..” send to
rana. Rana membalas dengan senyuman langsung dari kejauhan. Ara juga ikut
tersenyum. Tidak lama hanya 2 minggu mereka dekat dan akhirnya mereka resmi
menjadi sepasang kekasih. Di kantin makan pop mie berdua bersama fany. Namun, gadis
itu sedang di tunggu oleh kekasihnya, ara. “ohiya.. gue di tunggu sama ara. Gue
ke ara dulu ya. Kasian pasti dia udah
nunggu lama. Nih pegang. daaaaaaaah” katanya dengan panik. rana langsung memberikan pop mie ke fany lalu
pergi meninggalkannya begitu saja. “hay” sapa rana, dan duduk disebelah ara.
“udah nunggu lama? Maaf ya” “iya ngga apa-apa. Udah makan belom? Ara dengan
suara lembut. “udah tadi makan pop mie” senyum rana. Mereka berdua duduk begitu
dekat. “mau ngga?” ara menyodorkan makanan ke bibir rana. “ih malu diliat orang
tau” katanya, malu-malu. “nggak apa-apa. Orang Cuma mau suapin makanan doang”
Rana dengan malu-malu langsung membuka mulutnya untuk melahap makanan yang
diberikan ara. Di taman sekolah, taman itu biasa diberi nama bundaran HI oleh
anak-anak siswa di sekolah. Ara dan rana bercanda dan tertawa. Entah apa yang
dibicarakan itulah yang membuat mereka tertawa. Bel masuk berbunyi.....
Pulang sekolah rana tidak langsung pulang
seperti biasanya. Ia ketemuan dulu dengan ara. “hay..” menyapa ara yang sudah
dari tadi menunggu. Ara membalas dengan senyuman. “kamu nggak pulang?” tanya
rana. Di sekolah sudah sepi. Semua siswa sudah pulang. Hanya ada beberapa siswa
saja yang masih di depan kelasnya masing-masing. Ara dan rana duduk diteras tepat
depan kelas rana. “aku mau ngobrol sama kamu. Habis ini kamu mau kemana?” “aku ada les biola. Sebnetar lagi aku mau di
jemput sama supirku” katanya dengan lembut. “hhhmm.. besok kamu nggak usah di
jemput ya? Soalnya aku mau nganterin kamu pulang. Boleh?” katanya, masih
canggung meskipun sudah jadian. “gimana
ya? Hhhmmm.. oke” rana memberikan seulas senyuman. “yuk ke gerbang bareng”
ajakan ara dengan lembut. Supir rana sudah datang dan gadis itu langsung masuk
ke dalam mobil. “hati-hati ya” pesan
ara, sambil tersenyum
Pagi hari
sebelum berangkat sekolah ara dan rana sibuk sms-san. Mengingatkan rana untuk
sarapan dahulu sebelum berangkat dan sebaliknya ran juga seperti itu. mereka
saling perhatian. Seperti biasa mereka ke kantin bersama. Duduk berdua didepan
kelas, bercanda-canda dan tertawa. Ada salah satu siswa yang bertanya dengan
siswa lain. “eh si rana jadian ya sama ara? Kok mereka dekat banget sih?” bisik
2 gadis tepat di belakang rana dan ara. “iya. Udah kok” jawab indah dengan
tenang. “masa sih? Ya ampun.. nggak nyangka. Kok mau ya sama ara” katanya
dengan wajah tidak senang. “ya biarin aja. Ngapain sih ngurusin orang” kata
indah membela sepasang kekasih itu sekaligus teman dekatnya.
Esok harinya..
rana mendapat kabar dari indah tentang ara. “ran.. lo tau gak si ara itu
mantannya siapa?” “emang siapa?”
tanyanya dengan penasaran. “ara itu mantannya nila anak osis + vokalis band
disekolah kita. Mereka jadian lama banget lho. Dan katanya ara diputusin dan ara
sempet nolak keputusannya nila. Lebih tepatnya nggak mau putus sama nila. Ara
juga pernah pacaran sama kak andin katanya sih. Ara dulunya playboy gue
denger-denger dari orang gitu” jelasnya.
Rana langsung mengetahui 2 orang wanita yang disebutkan indah tadi. Nila cukup
dikenal banyak orang bahka seluruh anak osis mengenalnya. Dan kak andin juga
cukup dikenal seisi sekolah. “oh.. berarti Cuma gue doang dong cewek biasa yang
jadi pacarnya ara?” kata rana merendah diri dan dilanjutkannya. “Masa sih?
Dapet rumor dari mana deh? Nggak percaya” kata rana acuh tak acuh. “lo itu buka cewek
biasa ran. Justru lo itu lebih hebat dari mereka. Cuma kekurangannya lo itu
nggak supel. Nggak gampang bergaul. Temen lo Cuma gue doang sama vika dan
leony. Ya kan? Tapi banyak orang yang nggak tau kalo lo itu wanita yang jago
bermain biola. Gue yakin kalo mantan-mantanya ara dan siswa di sekolah ini tau
liat lo main biola, mereka pasti diem terkagum ngeliatnya” kata indah
membanggakan rana. “ih berlebihan banget deh” jawab rana dengan sedikit tawa.
“lo gitu sih ran.. punya bakat bukannya tampil di acara sekolah atau apa gitu
malah dinikmatin sendiri” komentarnya. “iya gue kan malu orangnya tau. Udahlah
bahas yang lain aja” Rana penasaran
dengan beberapa kabar dari temannya, indah. akhirnya ia memberanikan diri untuk
bertanya langsung dengan ara. “aku boleh tanya sesuatu?” memandnagi ara yang
sedang makan pop mie. “tanya aja sayang..” jawab ara dengan santai. “kamu
kenapa nggak cerita kalo kamu mantannya nila?” tanya dengan lembut sedikit
cemberut di wajahnya. “aku udah punya kamu, buat apa aku cerita tentang mantan aku?
Emangnya kenapa sayang?” “dan katanya kamu sempet nggak mau putus sama nila ya.
Padahal nila udah putusin kamu, dan aku yakin tangan kamu luka bukan kena air
panas tapi berlaga bunuh diri silet-silet tangan di depan nila karena nggak mau
diputusin? Benar kan dugaan aku?” ara berhenti menyantap makanan miliknya
setelah mendengar rana membicarakan kabar itu. “kamu kata siapa sih? Aku udah
putus sama dia. dia udah punya pacar kok. jadi aku nggak mungkin balikan lagi
sama dia, karena aku udah punya kamu. Udah sayang sama kamu” jelasnya dengan suara sedikit lantang karena
tak suka dengan bahan pembicaraan rana. “aku mau kita saling jujur ya. Kejadian
ini jangan terulang lagi. Seandainya kamu dari awal bilang, aku nggak akan
marah kok. aku nggak suka di bohongi” detailnya. Wajahnya cemberut nyaris
kecewa. Tapi ia tetap tenang. “aku nggak bohongi kamu, aku Cuma nggak mau aja
ngebahas masa lalu. Oke kali ini aku minta maaf. di maafin gak?” pintanya
dengan wajah memohon, sambil menggenggam jemari rana. “iya. Aku maafin” kata
rana dengan senyuman paksa di bibirnya. Dan ara menyuapi pop mie miliknya
kepada rana. Hati rana jadi lebih tenang dan sikap ara padanya selalu
membuatnya tertawa. Masalah selesai..
Esok hari.. ara
memberikan beberapa surat dari adik kelas. Dan semua adik kelas yang mengirim
surat itu pengagum rahasia ara. Entahlah.. kenapa tiba-tiba ara memberikan
semua surat itu kepada rana. Dan menyuruh rana untuk membacanya sendiri.
Mungkin dengan janjinya yang harus saling jujur. Rana membaca satu-persatu
surat tersebut dan melirik ara dari kejauhan. Ara memandangi rana dari awal
duduk didepan kelas. Setelah pulang sekolah rana mengembalikan surat-surat itu.
“kenapa masih di simpen? Ciyeee punya pengagum rahasia” ejek rana dengan wajah
tak senang. “apaan sih kamu” jawab ara
tidak suka. Rana teratawa. Rana suka ara
jujur seperti itu, memberikan surat-surat penggemarnya. Meskipun kejujurannya
membuat hatinya sakit, namun rana-lah yang menyiptakan janji di antara mereka.
rana tak pulang dengan supirnya, melainkan pulang bersama ara. “apa yang kamu
suka dari aku? Padahal kan banyak cewek-cewek yang lebih dari aku diluar sana
buat gantiin posisi nila” tanya rana. “mulai deh.. jangan ngebahas mantan dong”
“emang kenapa? Kamu masih sayang sama dia?” “aku udah punya kamu. Jangan urusin
omongan orang lain. Urusin hubungan kita aja ya” tutur ara dengan lembut.
1 tahun rana dan
ara menjadi sepasang kekasih. Pada saat rana sedang whatsapp-an dengan ara,
tiba-tiba ada nomer baru yang berisi pesan. “rana.. ini gue dea, tolong
bilangin ara dong. Suruh hubungi gue. Penting soal nadin” setelah membaca pesan
itu, rana terkejut. Dan matanya langsung bekaca-kaca. Ia mencoba mengatur
napasnya dengan menarik napas perlahan. Dadanya agak sesak. Ia hembuskan napas
secara perlahan. ia langsung menyampaikan pesan dea kepada ara dengan hati
terbakar cemburu. Dea adalah teman terdekat ara. Sekaligus sudah di anggap
adiknya ara. Dea masih satu sekolah dengan ara dan rana. Dea masih kelas 1,
sama dengan rana. Dan ara membalas
whatsapp rana, isinya “bilang dea, suruh telfon aku ya” rana terheran dan
sejumlah pertanyaan masuk ke dalam pikirannya. Apa maksudnya ini? Siapa nadin?
Kenapa ara sama sekali tidak memandang rana yang berstatus sebagai kekasihnya?
Kenapa mereka tak menghargai keberadaan rana? Kenapa ara mengingkari janjinya
yang harus saling jujur? Itulah yang ada di pikiran rana. Rana hanya diam, ia
tak bersemangat bermain biola. Jarang masuk les biola. Selama satu minggu rana
tak membalas pesan dari ara, dan tidak mengangkat telepon dari ara. Juga tidak
ingin bertemu ara. Biasanya rana duduk didepan kelas bersama teman-temannya.
Namun, ara melihat kelasnya rana, gadis itu tidak keluar kelas. Dan juga
teman-temannya ikut tidak keluar kelas. Mungkin benar, rana marah besar dengan
ara. Pulang sekolah, ara menunggu rana yang masih di dalam kelas. Rana ada
pelajaran tambahan, belum pulang. Sedangkan sekolah sudah terlihat sepi. Ara
tetap menunggu gadis itu dengan wajah gelisah. akhirnya gadis itu keluar. Dan ara
menghampiri rana setelah semua teman sekelasnya pulang. “kamu kenapa? Marah?”
tanya ara dengan wajah panik. “aku nggak apa.-apa” rana acuh tak acuh
menjawabnya dan membiarkan ara sendirian. “tunggu dulu. Aku mau kita selesai
semua masalah sekarang” menarik tangan rana dengan pelan. “masalah apa lagi
sih? Aku rasa semua masalah udah selesai kok” jawab rana dengan ketus. Ia sama
sekali tak memandangi wajah ara saat berbicara padanya. “kamu jawab pertanyaan
aku dulu. Kamu kenapa kaya gini?” tanya ara sangat penasaran. Wajahnya masih
gelisah. Tak ingin sesuatu buruk terjadi di antara hubungan mereka. “Aku
terlalu bodoh nerima cowok macam kaya kamu. Bodoh banget aku udah mau jadi
pelampiasan kamu. Kamu tau gak? Aku dulu sempet nggak percaya saat denger kabar
kamu dulunya playboy. Ternyata sampai sekarang masih betah jadi playboy? Dan
nadin. Siapalah itu aku nggak tau. Nadin siapa kamu?” jelasnya dengan menahan isak tangisan,
wajahnya memerah menahan amarah yang ada dibenaknya. Matanya mulai berkaca-kaca,
nyaris mengeluarkan air mata. “jawab jujur ara” rana dengan suara yang mulai serak. “dia pacar
aku, 2 minggu aku jadian. Maafin aku” jawab ara dengan pelan dan jujur sambil
menunduk. “bagus kalo kamu jawab jujur begitu. mulai hari ini kita putus aja.
Lupain semuanya, jangan pernah ada di hadapan aku lagi” ungkap rana, wajahnya
memerah. Amarahnya hampir meledak. Namun, ia berusaha mengimbangi. lalu rana
pergi meninggalkan ara sendirian. Pria itu diam saja tak mengejar rana. Ia
mengacak rambut karena penyesalan. Mereka resmi putus. Dan ara terima keputusan
rana.
2 bulan rana
sulit bangun dari rasa sakitnya. Karena baru ara yang menyentuh hati rana dan
baru ara-lah yang melukai hati rana. pria itu adalah cinta pertama sekaligus
kekasih pertama. Rana berusaha bangkit kembali seperti rana yang dulu.. Rana
menganggap kejadian yang di alaminya hanyalah sebuah mimpi buruk. Pengalaman
pertama yang membuatnya sulit untuk menghilangkan rasa sakit dihati. Aldriana
verdinan sudah kembali seperti dulu. Rana yang semangat belajar, rana yang
polos dan rana yang suka memainkan biola kesayangannya. meskipun perasaan itu
sudah hilang. Namun luka itu masih membekas di hatinya. dan cukup sulit untuk
menghilangkannya.
No comments:
Post a Comment