Wednesday, 2 July 2014

GORESAN LUKA




Aldriana putri verdinan, seorang siswi kelas 1 SMA di salah satu sekolah negeri jakarta. gadis ini hatinya belum pernah tersentuh oleh pria manapun. Aldriana biasa di panggil  rana oleh teman-temannya itu, sangat menyukai biola. Rana belum pernah berpacaran dan belum pernah jatuh cinta. Karena ia lebih suka bermain biolanya. “ran, pulang sekolah nanti kita main kerumah ines yuk?” ajakan fany, teman sebangku rana ketika bel pulang berbunyi. “aduuuh aku ada les biola  fan.. maaf ya”  kata rana. Tak enak hati menolak ajakan fany “yah.. okelah. Aku duluan ran” fany melambaikan tangan dengan cepat sambil tersenyum. “hati-hati yaaa” senyum rana. Rana keluar kelas sendirian. Dan ada pria datang dengan tergesah-gesah. Mereka saling bertabrakan tubuh. “maaf ya maaf..”  pria itu memungut buku-buku rana yang terjatuh berantakan. “iya gak apa-apa kok” rana ikut memungut bukunya. Mereka saling memandang setelah buku tertata rapih. Pria tampan itu memiliki tinggi badan 176 cm. rana hanya tersenyum dan pergi.  Pria itu bernama ara. Ara terus memandangi rana dengan wajah senyum-senyum sendiri. Dan ikut pergi meninggalkan tempat itu. rana di jemput oleh supirnya. Ia menuju tempat les biola. Rana memang lincah memainkan biolanya. Ia paling jago di antara teman-teman lesnya. Aldriana putri verdinan adalah gadis tajir. Namun ia tidak pernah menampakan kalau dirinya anak orang kaya. Dan sesungguhnya ia adalah Gadis cantik apa adanya , sederhana, juga rendah hati dan murah senyum. Gadis ini juga sangat tertutup, laki-laki sangat sulit mendekatinya. karena rana  orangnya diam dan tertutup. Kalau mengobrol dengan teman-temannya hanya ikutan tertawa dan bicara yang penting saja, tapi dia gadis yang baik. Teman-temannya sangat nyaman berteman dengan rana. Ia tidak pernah pilih-pilih teman.
Jam istirahat.. rana jajan di kantin dengan teman-temannya. Ara fauzi mulai stalkerin rana. Ia melihat rana hanya dari kejauhan saja. Ara adalah siswa kelas 2 SMA. Saat jam istirahat ara bersama teman-temannya duduk di teras depan kelasnya. Ia tidak ikut mengobrol dengan teman sebayanya, justru ia asik sendiri memandangi rana dari kejauhan.  Rana sedang makan pop mie sambil mendengarkan temannya bercerita. Rana tertawa dan tidak sadar sedang diperhatikan oleh orang lain. Ara masih sedikit senyum-senyum sendiri melihat rana tertawa. “senyumnya.. ketawanya... wajah polosnya” kata hati ara masih memandangi rana. Hatinya ingin sekali berkenalan. Tidak terasa bel masuk berbunyi. Ara melihat rana beserta teman-temannya pergi masuk ke kelas. Dan pria itu juga ikut masuk ke kelasnya.
Ara kembali memperhatikan rana dari kejauhan. Rasa inginn berkenalan dengan rana semaikn memuncak. “eh dia namanya siapa sih?” ara menunjuk rana. “oh dia itu namanya rana. Kenapa? Lo suka ya?” ejekan temannya. “Oh.. rana” kata ara dengan pelan. Rasa penasaran ara maju satu langkah. “hey.. boleh kenalan. Nama gue ara anak kelas 2 ipa 5” mengulurkan tangannya. “indah” mereka berkenalan. “Indah.. lo temennya rana kan?” tanya ara di tempat kantin. Pada saat gadis itu tidak bersama atau tidak kumpul dengan rana dan kawan-kawan. “iya. Kenapa ra?” jawabnya. “hhhmm.. gue boleh minta nomernya gak?” pintanya dengan senyuman. “buat apa? Emangnya rana kenal sama lo juga?” tanyanya. “ya nggak sih. Gue pengen kenalan aja sama rana. Boleh?” wajah memohonnya. “tapi gue tanya dulu sama orangnya ya?” “yauda deh. Sekalian salamin ya dari gue. Eh gue boleh minta nomer lo?” katanya sambil tersenyum. “oke.. gue duluan ya”  indah memberikan nomernya dan langsung pergi meninggalkan ara. Pria itu pergi dengan wajah senang.

Malam hari ara kirim pesan ke indah. “hay indah.. ini gue ara. Gimana udah di salamin belum?” send to indah. dan di balas. “udah.. ini nomernya. Tapi jangan di sebar ya” “oke. Thanks ya J” send to indah. “eh kalau boleh tau, lo suka ya sama  rana?” tanya indah lewat pesan. “iya. Gue suka sama dia. lo mau bantuin gue comblangin gak?” “oke.. tapi ada syaratnya” “apa tuh?” “lo janji ya jangan sakitin rana. Jujur.. dia itu belum pernah pacaran” “siap.. tenang aja ya indah. gue janji kok” ara sudah mendapatkan nomer rana. Dan langsung sms gadis itu. “met malam..” send to rana. “malam juga” di balas rana dengan emoticon senyum. “ini rana ya? Boleh kenalan?” “iya aku rana. Kalau boleh tau kamu siapa?”  “aku ara anak kelas 2 ipa 5” ara dan rana asyik sms-san. Ternyata rana orangnya tidak sombong. Sampai esok pagi..  Di sekolah jam istirahat ara masih sibuk sms-san dengan rana. Dari kejauhan ara memberitahu keberadaan dirinya kepada rana. Dan rana mencari ke sudut-sudut kelas, ara melambaikan tangan. Rana melihatnya dan sedikit malu-malu. ia membuang wajahnya. “kamu cantik..” send to rana. Rana membalas dengan senyuman langsung dari kejauhan. Ara juga ikut tersenyum. Tidak lama hanya 2 minggu mereka dekat dan akhirnya mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Di kantin makan pop mie berdua bersama fany. Namun, gadis itu sedang di tunggu oleh kekasihnya, ara. “ohiya.. gue di tunggu sama ara. Gue ke ara dulu ya. Kasian pasti dia udah  nunggu lama. Nih pegang. daaaaaaaah” katanya dengan panik.  rana langsung memberikan pop mie ke fany lalu pergi meninggalkannya begitu saja. “hay” sapa rana, dan duduk disebelah ara. “udah nunggu lama? Maaf ya” “iya ngga apa-apa. Udah makan belom? Ara dengan suara lembut. “udah tadi makan pop mie” senyum rana. Mereka berdua duduk begitu dekat. “mau ngga?” ara menyodorkan makanan ke bibir rana. “ih malu diliat orang tau” katanya, malu-malu. “nggak apa-apa. Orang Cuma mau suapin makanan doang” Rana dengan malu-malu langsung membuka mulutnya untuk melahap makanan yang diberikan ara. Di taman sekolah, taman itu biasa diberi nama bundaran HI oleh anak-anak siswa di sekolah. Ara dan rana bercanda dan tertawa. Entah apa yang dibicarakan itulah yang membuat mereka tertawa. Bel masuk berbunyi.....
 Pulang sekolah rana tidak langsung pulang seperti biasanya. Ia ketemuan dulu dengan ara. “hay..” menyapa ara yang sudah dari tadi menunggu. Ara membalas dengan senyuman. “kamu nggak pulang?” tanya rana. Di sekolah sudah sepi. Semua siswa sudah pulang. Hanya ada beberapa siswa saja yang masih di depan kelasnya masing-masing. Ara dan rana duduk diteras tepat depan kelas rana. “aku mau ngobrol sama kamu. Habis ini kamu mau kemana?”  “aku ada les biola. Sebnetar lagi aku mau di jemput sama supirku” katanya dengan lembut. “hhhmm.. besok kamu nggak usah di jemput ya? Soalnya aku mau nganterin kamu pulang. Boleh?” katanya, masih canggung meskipun sudah jadian.  “gimana ya? Hhhmmm.. oke” rana memberikan seulas senyuman. “yuk ke gerbang bareng” ajakan ara dengan lembut. Supir rana sudah datang dan gadis itu langsung masuk ke dalam mobil.  “hati-hati ya” pesan ara, sambil tersenyum
Pagi hari sebelum berangkat sekolah ara dan rana sibuk sms-san. Mengingatkan rana untuk sarapan dahulu sebelum berangkat dan sebaliknya ran juga seperti itu. mereka saling perhatian. Seperti biasa mereka ke kantin bersama. Duduk berdua didepan kelas, bercanda-canda dan tertawa. Ada salah satu siswa yang bertanya dengan siswa lain. “eh si rana jadian ya sama ara? Kok mereka dekat banget sih?” bisik 2 gadis tepat di belakang rana dan ara. “iya. Udah kok” jawab indah dengan tenang. “masa sih? Ya ampun.. nggak nyangka. Kok mau ya sama ara” katanya dengan wajah tidak senang. “ya biarin aja. Ngapain sih ngurusin orang” kata indah membela sepasang kekasih itu sekaligus teman dekatnya.
Esok harinya.. rana mendapat kabar dari indah tentang ara. “ran.. lo tau gak si ara itu mantannya siapa?”  “emang siapa?” tanyanya dengan penasaran. “ara itu mantannya nila anak osis + vokalis band disekolah kita. Mereka jadian lama banget lho. Dan katanya ara diputusin dan ara sempet nolak keputusannya nila. Lebih tepatnya nggak mau putus sama nila. Ara juga pernah pacaran sama kak andin katanya sih. Ara dulunya playboy gue denger-denger dari orang gitu”  jelasnya. Rana langsung mengetahui 2 orang wanita yang disebutkan indah tadi. Nila cukup dikenal banyak orang bahka seluruh anak osis mengenalnya. Dan kak andin juga cukup dikenal seisi sekolah. “oh.. berarti Cuma gue doang dong cewek biasa yang jadi pacarnya ara?” kata rana merendah diri dan dilanjutkannya. “Masa sih? Dapet rumor dari mana deh? Nggak percaya”  kata rana acuh tak acuh. “lo itu buka cewek biasa ran. Justru lo itu lebih hebat dari mereka. Cuma kekurangannya lo itu nggak supel. Nggak gampang bergaul. Temen lo Cuma gue doang sama vika dan leony. Ya kan? Tapi banyak orang yang nggak tau kalo lo itu wanita yang jago bermain biola. Gue yakin kalo mantan-mantanya ara dan siswa di sekolah ini tau liat lo main biola, mereka pasti diem terkagum ngeliatnya” kata indah membanggakan rana. “ih berlebihan banget deh” jawab rana dengan sedikit tawa. “lo gitu sih ran.. punya bakat bukannya tampil di acara sekolah atau apa gitu malah dinikmatin sendiri” komentarnya. “iya gue kan malu orangnya tau. Udahlah bahas yang lain aja”  Rana penasaran dengan beberapa kabar dari temannya, indah. akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya langsung dengan ara. “aku boleh tanya sesuatu?” memandnagi ara yang sedang makan pop mie. “tanya aja sayang..” jawab ara dengan santai. “kamu kenapa nggak cerita kalo kamu mantannya nila?” tanya dengan lembut sedikit cemberut di wajahnya. “aku udah punya kamu, buat apa aku cerita tentang mantan aku? Emangnya kenapa sayang?” “dan katanya kamu sempet nggak mau putus sama nila ya. Padahal nila udah putusin kamu, dan aku yakin tangan kamu luka bukan kena air panas tapi berlaga bunuh diri silet-silet tangan di depan nila karena nggak mau diputusin? Benar kan dugaan aku?” ara berhenti menyantap makanan miliknya setelah mendengar rana membicarakan kabar itu. “kamu kata siapa sih? Aku udah putus sama dia. dia udah punya pacar kok. jadi aku nggak mungkin balikan lagi sama dia, karena aku udah punya kamu. Udah sayang sama kamu”  jelasnya dengan suara sedikit lantang karena tak suka dengan bahan pembicaraan rana. “aku mau kita saling jujur ya. Kejadian ini jangan terulang lagi. Seandainya kamu dari awal bilang, aku nggak akan marah kok. aku nggak suka di bohongi” detailnya. Wajahnya cemberut nyaris kecewa. Tapi ia tetap tenang. “aku nggak bohongi kamu, aku Cuma nggak mau aja ngebahas masa lalu. Oke kali ini aku minta maaf. di maafin gak?” pintanya dengan wajah memohon, sambil menggenggam jemari rana. “iya. Aku maafin” kata rana dengan senyuman paksa di bibirnya. Dan ara menyuapi pop mie miliknya kepada rana. Hati rana jadi lebih tenang dan sikap ara padanya selalu membuatnya tertawa. Masalah selesai..
Esok hari.. ara memberikan beberapa surat dari adik kelas. Dan semua adik kelas yang mengirim surat itu pengagum rahasia ara. Entahlah.. kenapa tiba-tiba ara memberikan semua surat itu kepada rana. Dan menyuruh rana untuk membacanya sendiri. Mungkin dengan janjinya yang harus saling jujur. Rana membaca satu-persatu surat tersebut dan melirik ara dari kejauhan. Ara memandangi rana dari awal duduk didepan kelas. Setelah pulang sekolah rana mengembalikan surat-surat itu. “kenapa masih di simpen? Ciyeee punya pengagum rahasia” ejek rana dengan wajah tak senang.  “apaan sih kamu” jawab ara tidak suka.  Rana teratawa. Rana suka ara jujur seperti itu, memberikan surat-surat penggemarnya. Meskipun kejujurannya membuat hatinya sakit, namun rana-lah yang menyiptakan janji di antara mereka. rana tak pulang dengan supirnya, melainkan pulang bersama ara. “apa yang kamu suka dari aku? Padahal kan banyak cewek-cewek yang lebih dari aku diluar sana buat gantiin posisi nila” tanya rana. “mulai deh.. jangan ngebahas mantan dong” “emang kenapa? Kamu masih sayang sama dia?” “aku udah punya kamu. Jangan urusin omongan orang lain. Urusin hubungan kita aja ya” tutur ara dengan lembut.
1 tahun rana dan ara menjadi sepasang kekasih. Pada saat rana sedang whatsapp-an dengan ara, tiba-tiba ada nomer baru yang berisi pesan. “rana.. ini gue dea, tolong bilangin ara dong. Suruh hubungi gue. Penting soal nadin” setelah membaca pesan itu, rana terkejut. Dan matanya langsung bekaca-kaca. Ia mencoba mengatur napasnya dengan menarik napas perlahan. Dadanya agak sesak. Ia hembuskan napas secara perlahan. ia langsung menyampaikan pesan dea kepada ara dengan hati terbakar cemburu. Dea adalah teman terdekat ara. Sekaligus sudah di anggap adiknya ara. Dea masih satu sekolah dengan ara dan rana. Dea masih kelas 1, sama dengan rana.  Dan ara membalas whatsapp rana, isinya “bilang dea, suruh telfon aku ya” rana terheran dan sejumlah pertanyaan masuk ke dalam pikirannya. Apa maksudnya ini? Siapa nadin? Kenapa ara sama sekali tidak memandang rana yang berstatus sebagai kekasihnya? Kenapa mereka tak menghargai keberadaan rana? Kenapa ara mengingkari janjinya yang harus saling jujur? Itulah yang ada di pikiran rana. Rana hanya diam, ia tak bersemangat bermain biola. Jarang masuk les biola. Selama satu minggu rana tak membalas pesan dari ara, dan tidak mengangkat telepon dari ara. Juga tidak ingin bertemu ara. Biasanya rana duduk didepan kelas bersama teman-temannya. Namun, ara melihat kelasnya rana, gadis itu tidak keluar kelas. Dan juga teman-temannya ikut tidak keluar kelas. Mungkin benar, rana marah besar dengan ara. Pulang sekolah, ara menunggu rana yang masih di dalam kelas. Rana ada pelajaran tambahan, belum pulang. Sedangkan sekolah sudah terlihat sepi. Ara tetap menunggu gadis itu dengan wajah gelisah. akhirnya gadis itu keluar. Dan ara menghampiri rana setelah semua teman sekelasnya pulang. “kamu kenapa? Marah?” tanya ara dengan wajah panik. “aku nggak apa.-apa” rana acuh tak acuh menjawabnya dan membiarkan ara sendirian. “tunggu dulu. Aku mau kita selesai semua masalah sekarang” menarik tangan rana dengan pelan. “masalah apa lagi sih? Aku rasa semua masalah udah selesai kok” jawab rana dengan ketus. Ia sama sekali tak memandangi wajah ara saat berbicara padanya. “kamu jawab pertanyaan aku dulu. Kamu kenapa kaya gini?” tanya ara sangat penasaran. Wajahnya masih gelisah. Tak ingin sesuatu buruk terjadi di antara hubungan mereka. “Aku terlalu bodoh nerima cowok macam kaya kamu. Bodoh banget aku udah mau jadi pelampiasan kamu. Kamu tau gak? Aku dulu sempet nggak percaya saat denger kabar kamu dulunya playboy. Ternyata sampai sekarang masih betah jadi playboy? Dan nadin. Siapalah itu aku nggak tau. Nadin siapa kamu?”  jelasnya dengan menahan isak tangisan, wajahnya memerah menahan amarah yang ada dibenaknya. Matanya mulai berkaca-kaca, nyaris mengeluarkan air mata. “jawab jujur ara”  rana dengan suara yang mulai serak. “dia pacar aku, 2 minggu aku jadian. Maafin aku” jawab ara dengan pelan dan jujur sambil menunduk. “bagus kalo kamu jawab jujur begitu. mulai hari ini kita putus aja. Lupain semuanya, jangan pernah ada di hadapan aku lagi” ungkap rana, wajahnya memerah. Amarahnya hampir meledak. Namun, ia berusaha mengimbangi. lalu rana pergi meninggalkan ara sendirian. Pria itu diam saja tak mengejar rana. Ia mengacak rambut karena penyesalan. Mereka resmi putus. Dan ara terima keputusan rana.
2 bulan rana sulit bangun dari rasa sakitnya. Karena baru ara yang menyentuh hati rana dan baru ara-lah yang melukai hati rana. pria itu adalah cinta pertama sekaligus kekasih pertama. Rana berusaha bangkit kembali seperti rana yang dulu.. Rana menganggap kejadian yang di alaminya hanyalah sebuah mimpi buruk. Pengalaman pertama yang membuatnya sulit untuk menghilangkan rasa sakit dihati. Aldriana verdinan sudah kembali seperti dulu. Rana yang semangat belajar, rana yang polos dan rana yang suka memainkan biola kesayangannya. meskipun perasaan itu sudah hilang. Namun luka itu masih membekas di hatinya. dan cukup sulit untuk menghilangkannya.

No comments:

Post a Comment