Wednesday, 18 February 2015

#FlashFiction judul : Silent to Love




Seorang gadis sedang membersihkan sepatu bola pria itu tepat di depan rumahnya. 
“oh.. jadi selama ini kau yang melakukan?” 
“yang menyiapkan makanan tiap pagi?” 
“yang mencuci pakaian kotorku. Itu kau juga?” 
“dan.. yang merapihkan seluruh isi rumahku, termasuk kamarku. Itu kau juga kan?” 
“kau siapa?” 
“kenapa bisa masuk ke dalam rumahku?” 
Apa yang kau inginkan?” kata pria itu, melemparkan sejuta pertanyaan karena terkejut dan heran. Gadis itu hanya diam dan malu. Ia pun membuka percakapan dengan pelan dan malu-malu.
“ya.. aku yang melakukan semua ini” 
“aku suka denganmu. Bahkan aku mencintaimu sejak kau menempati rumah ini” 
“aku tidak mengenalmu” seru rendy (pria yang mempunyai rumah) 
“aku lakukan semua ini, karena aku mencintaimu. Aku cinta kamu lebih dari aku mencintai diri aku sendiri” 
“aku suka melakukan ini semua. Aku rela melakukan ini semua” katanya dengan menahan isak tangis, ia berusaha jujur meskipun dirinya malu mengungkapkan isi hatinya yang begitu dalam. Setelah terungkap, Gadis itu pergi sambil menangis. Ia berlari menuju rumahnya sendiri karena merasa malu sudah ketahuan selama ini telah memebersihkan atribut pria itu secara diam-diam. Rendy terdiam dan menyangka begitu dalam perasaan gadis itu untuknya. Masih terbayang dengan ungkapan gadis itu barusan. Rendy pun termenung beberapa saat.
"siapa gadis itu? aku belum sempat menanyakan namanya. seharusnya aku bersikap lembut dengannya"
tutur rendy dalam hati. ia menyesali karena begitu banyak pertanyaan diberikannya, membuat gadis itu lari ketakutan.

semua karena Allah. hidup dan mati hanya untuk Allah

Semua karena Allah menjadikan hidup lebih Indah dan bermakna
Jika engkau ingin meraih puncak kesuksesan dan kejayaan, maka tidak bisa tidak, engkau harus bisa mengendalikan dirimu, sesulit apa pun keadaanmu saat itu.

Sobat, Hati yang kotor tak jauh beda dengan aliran air yang keruh, sebanyak apa pun cahaya yang diarahkannya takkan mampu memantulkan cahaya itu, tak juga mampu menampungnya di dalam dirinya.
Ilmu adalah sesuatu yang suci. Ilmu adalah cahaya yang datangnya langsung dari Tuhan Yang Maha Suci. Cahaya yang dihujamkan ke hati manusia. Dengan Ilmu, jiwa menjadi tenang, hati pun merunduk dan semakin dekat dengan Sang Pemberi Cahaya. Ilmu berasal dari Allah, puncaknya saat manusia semakin mendekat kepada Alllah SWT.

Almarhum ayah pernah berpesan "tiap kamu mau belajar jagalah kesucian dengan berwudhu dan berdo'a." Maka menjadi kemestian bagi sang pencari ilmu, juga yang mengajarkan ilmu, untuk senantiasa menjaga kemurnian hatinya dan ketulusan niat. Baginda Rasul bersabda, " Barangsiapa mempelajari ilmu yang semestinya untuk mencari ridho Allah, tetapi ternyata ia mempelajarinya tidak lain untuk mendapatkan kekayaan dunia, niscaya ia tidak mencium aroma surga ketika hari kiamat." ( HR Abu Dawud)

Sobat, percayalah, semua yang kita niatkan karena Allah Pasti akan tercapai dengan gemilang. Tak hanya di dunia, tapi juga di akherat.
"Nak apapun yang kita kerjakan, mencari ilmu, mencapai kesuksesan dan lain sebagainya, takkan bisa memiliki makna samasekali ketika diniatkan untuk duniawi semata. Kalau kamu beli sapi pasti talinya ikut. sapi itu kehidupan akherat sedangkan tali itu kehidupan dunia. Kalau orientasi hidupmu itu akherat mempersiapkan bekal hidup setelah mati tidak usah kamu khawatirkan kehidupan duniamu, karena pasti di tata dengan baik oleh Allah SWT." Pesan Almarhum ayah padaku.

Bahwa semua akan bermakna manakala diniatkan karena Allah semata. Mencari ilmu karena Allah. mempelajari apa saja karena Allah. Mencari harta dan rezeki karena Allah.Mengejar impian juga karena Allah. Begitu seterusnya. " Dan segala sesuatu yang diniatkan karena Allah, itulah yang akan mencapai puncak kesuksesan dan kejayaan yang abadi. Itulah Rahasia kesuksesan Rasul dan Para sahabatnya yang paling ampuh dan pamungkas."

Dalam artikel yang singkat saya tutup dengan sebuah pernyataan ibnu rajab "Ilmu bukanlah dilihat dari banyaknya omongan dan ucapannya. Akan tetapi, ilmu adalah cahaya yang dimasukkan ke hati. Sehingga dengan ilmu tersebut seseorang dapat memahami kebenaran dan membedakan antara yang benar dan bathil." ( Ibnu Rajab al-Hambali)