NERVOSITAT
BAB I
pagi hari.. dua orang pria remaja berangkat
ke sekolah berjalan menyusuri trotoar bersama sahabatnya. Dua orang sahabat yang tak mengenal perbedaan.
Mereka pun juga sama halnya dengan manusia lainnya yang memiliki suatu
permasalahan di setiap kehidupan. Adapun cara mengatasi suatu masalah tersebut
dengan cara, melupakan. Cara tersebut
membuat terlepas dari permasalahan yang mengikat di pikiran mereka. ivelo putra kindi. Biasa di panggil velo. Pria
disebelahnya adalah bimo herdiwidyo, biasa dipanggil bimo. Dia adalah sahabat velo. Tingkah konyolnya membawa suasana hati gembira. canda dan tawa terlihat jelas di wajah mereka ketika berjalan menyusuri trotoar. bimo paling gemar baca buku dan
belajar. Bimo juga paling pintar di kelas, sedangkan velo?
Benar-benar berbeda sekali dengan bimo. Walaupun mereka
memilki perbedaan, namun
bukan berarti mereka dilarang bersahabat. velo dengan bimo tak pandang status, latar belakang atau pun sifat. Namun tahu tidak, mengapa mereka bersahabat? Hhhmmm.. ya seperti
itulah adanya. tak ada alasan mengapa velo dan bimo bersahabat. Ya memang keadaannya seperti
itu. Velo
sangat nyaman berteman dengan bimo. dan sebaliknya, bimo juga tak tertekan mempunyai teman rada gokil seperti velo.
Mereka setiap kali jalan bersama tak akan tertinggal dengan candaannya. saat menyusuri trotoar yang dikelilingi mobil
angkutan umum, dan kendaraan lainnya,
mereka tak akan berhenti bercanda. velo anak terakhir
dari dua bersaudara. ia mempunyai
kakak perempuan, namanya veli vildria kindi. Dia
seorang mahasiswa yang gemar sekali baca buku. velo dan veli, sifatnya bertolak belakang.
Ya lihat saja velo, berantakan dan apalagi
velo sangat membenci buku. Sekolah saja malas-malasan. velo hanya
tinggal berdua dirumahnya bersama seorang kakak perempuannya, veli. Pasti pada mikir kemana orang tua velo?? Pria itu juga memikirkan hal yang sama. Kemanakah orang tuanya? Ayah
dan ibunya over sibuk. ibunya
sibuk dengan usaha butiknya yang bercabang dimana-mana.
Sedangkan ayahnya, Sibuk dengan perusahaannya. Karena
terlalu sibuk, mereka jadi lupa kalau mempunyai anak yang lagi butuh perhatian
banyak. Kalau keadaanya sudah seperti
ini, katanya sih, velo sudah masuk dalam kategori anak broken home. Tak masalah baginya jika menjadi anak broken home,
asalkan tak
bro-ken heart
sajalah. Katanya, cowok berbadan tinggi, memakai baju
sekolah ukuran pas dengan badannya, celana sedikit ngpress, rambut sedikit
coklat, bermodel mohawk, berjalan menyusuri trotoar di pinggiran jalan menuju
halte bus bersama sahabatnya. “bbbmmmmm” Bunyi bus. bus telah
datang, velo dan bimo langsung naik bus tersebut. Sudah sampai tujuan, Seperti biasanya velo berhasil lolos tak membayar ongkos bus. “woy bayar. Sialan..” teriakan seorang kenek bus. “yaelah
bang woles!! Gua bayar nanti. Kalo perlu sama bus nya. Sekalian sama lu nya” velo tertawa mengejek seorang kenek tersebut
yang dari awal sudah memerah wajahnya. “Sialan tuh anak sekolahan” gerutunya. “tek tek tek teekkk” (suara
koin diketuk oleh kenek memberi aba-aba kepada supir untuk menjalankan bus tersebut
Benci
sampai mati..
Velo sekarang
duduk dikelas 3 SMP. Velo menghampiri teman sebangkunya yang lagi duduk di
teras halaman sekolah. “wey bro baca buku mulu lu. Otak lu tuh butuh refreshing. Ah payah lu” komentarnya pria itu duduk di sebelah bimo seketika ia mengacak rambut bimo yang sedang asyik membaca buku. Model
rambut yang biasa saja, putih, sedikit ganteng, tinggi dan memakai kacamata itu bernama bimo. Bimo
adalah teman sebangku velo sekaligus sahabat. Meskipun velo suka jail dengan
bimo, tapi mereka tetap fine dan enjoy. Menerima setiap kekurangan dan
kelebihan masing-masing. “tiap lo
dateng. Pasti
nggak ketinggalan buat ngacak rambut gue” gerutunya sambil merapihkan rambut.
Velo hanya tersenyum senang melihat bimo
marah. “Gue lagi asyik baca nih. Ganggu aja lo” ungkap bimo sambil memonyongkan bibirnya. “yaelah payah lu, apa sih enaknya baca buku? Bikin pusing aja. Hidup ini harus di
nikmatin broo, lo liat cewek-cewek tuh. Lu ngga tertarik apa?” velo menunjuk dengan dagunya mengarah gadis-gadis yang sedang melewatinya dari kejauhan. Sambil
memegang pundak bimo. wajah bimo terlihat tidak tertarik dengan pembahasan velo. “ah cewek mulu lo vel, gue lebih suka
ngeliatin buku dari pada liat cewek-cewek yang nggak jelas kaya gitu” melanjutkan membaca dan mengacuhkan velo. “apa lu kata? Eh otak lu udah di cuci kayanya sama nih buku. Apa perlu gue sodorin cewek-cewek lagi sexy baru lu bisa
ngelirik?” velo tertawa mengejek. dan mengacak rambut bimo
untuk kesekian kalinya. Velo senang sekali mengacak rambut
orang. Termasuk sahabatnya. “najis
lo, vel” katanya, dengan wajah ilfeel. “Dari pada lo ngomong ngaco kaya gini,
mending lo
beliin gue makanan di kantin. Lebih berkah dari pada lo ngomong nggak jelas kaya tadi. Gih
buru” suruhnya dan mendorong
velo. “iye oke karena gue teman yang baik gue beliin lo makanan deh. Tapi berhubungan duit gue menipis, pake duit lo dulu ya” menadangkan tangannya ke bimo. “ah itu sih bukan temen baik. sama aja pake duit gue
juga” kata bimo dan langsung mengambil uang di saku
bajunya. “mau gue beliin nggak? Yaelah gitu aja lo perhitungan sama temen sendiri. Gue kan juga pernah jajanin lo, bimo!!” mencoba membela diri. “kapan?” tanya bimo
terheran sambil mengangkat kedua alisnya. “ongkos bus yang bayarin kan gue” ungkap velo merasa
pahlawan. “yaelahh itu sih pake duit gue. Gue waktu itu nggak bawa duit, dan gue ganti besoknya. Udah buru jadi ngebacot
mulu lo vel” bimo langsung mendorong
velo. “Oke jangan kemana-mana bro” tawa velo mengejek. kemudian ia pergi ke kantin. Dan bimo
melanjutkan kembali membaca buku novel yang dipegangnya. novel tentang komedi
remaja. Bimo anak paling pintar di kelas. Jago
matematika tapi belum pernah pacaran. sedangkan velo justru kebalikan dari
bimo. pria
paling malas belajar dan tak jago dengan pelajaran apapun. Velo lebih suka
nge-band dari pada belajar. Melihat buku saja velo sudah malas.
Dari SD ia tak pernah masuk dalam kategori juara kelas.
Setiap ujian kerjaannya hanya mencontek. Velo tak pernah mengerjakan PR. Pernah
sih itu juga jarang. Teman sebangkunya yang menjadi penyelamat velo. Setiap ada
PR selalu dikasih contekan.