Friday, 9 April 2021

memikirkan seseorang yang belum seutuhnya milik kita

 saat ini saya lagi ngalamin kangen berat kepada seseorang yang belum sepenuhnya milik saya. kita awal kenal memang agak canggung, tapi saya terus berusaha agar kecanggungan itu menjadi akrab. dia memang orang yang terbilang cukup cuek. saya selalu berfikir negatif kepadanya karena sikap cueknya. bahkan chat saya pun dibalas cukup lama, jadi membuat saya berfikir 'apakah dia benar-benar niat dekat dengan saya?' pikiran-pikiran negatif itu selalu muncul. karena dari situ saya sangat penasaran. apa yang sedang dia lakukan sampai dia jadi lupa memberikan kabar ke saya. apa saya bukan satu-satunya yang sedang dekat dengannya? saya berusaha keras buat mikir baik tentangnya. tapi makin kesini malah semakin membuat saya muak dengan sikapnya. saya bertekad dengan pemikiran saya, bahwa dia memang tidak serius dekat dengan saya :) akhirnya saya memutuskan untuk mundur darinya. sebelumnya saya mencoba pikirkan matang-matang dengan keputusan saya tersebut. dan akhirnya saya memberitahu kepadanya bahwa saya ingin mundur dan pergi untuk tidak lagi memperjuangkannya. dalam isi pesan yang saya buat sepertinya terlihat penuh dengan emosi. dia membaca pesan saya dan membalas kalau dia capek dengan saya yang suka tarik ulur. saya berpikir, apakah saya memang benar tarik ulur? apa semua salah saya? apakah saya salah yang ingin sekali dekat dengannya? apa saya terlalu memprioritaskan dia? dari situ saya berfikir, saya memang egois sudah bersikap seperti itu, saya hanya memikirkan kepuasaan tersendiri saya yang hanya ingin mendapatkan perhatian lebihnya. tapi biarpun begitu niat saya baik, karena saya tulus mencintainya. yang dipikiran saya hanya ingin menjadi satu-satunya orang di dalam hatinya. itu saja. saya seharusnya tidak menaruh harapan besar kepadanya. saat itu saya berusaha turunkan ego, saya minta maaf kepadanya karena sudah bersikap berlebihan. dipikiran saya saat itu, hanya ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki semua. namun dia sudah lelah dengan sikap saya. apakah kita memang tidak berjodoh? atau ada yang salah di dalam diri saya? saya bingung. saya sekarang sudah mulai pasrah dengan keputusannya yang meminta ingin sendiri. saya hanya bisa mengikhlaskan semuanya dan saya juga harus intropeksi diri, membenahi diri, agar ego saya tidak melekat lagi di diri saya. siapapun yang salah, saya seharusnya mengalah. karena dalam hubungan itu harus salah satu yang mengalah. dan sampai saat ini saya masih terus memikirkannya, saya menunggu balasan dari dia, tapi dia benar-benar sudah tidak ingin berbicara lagi dengan saya. saya masih memikirkan nya. saya sudah berusaha mengikhlaskannya. entah kenapa dia selalu ada dipikiran saya? apakah dia juga sedang memikirkan saya? apakah emosi kami terhubung dengan pikiran ? saya ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, bahwa saya sangat merindukan dia. saya masih mencintai dia.