“krriiiiiiiiiinggggggiinggggg...
kriiiiingggiiiinnggg” bunyi alarm. ku
buka mata secara perlahan. Sambil melihat jam weker, masih keadaan mata kriyep.
“astaghfirullooh...” ucapan pertamaku di
pagi hari. Oh, bukan..! lebih tepatnya pagi menjelang siang. Tepat jam 10.00
WIB. Jarum jam terpampang jelas di wajahku. Hari pertama masuk di sekolah SMK
Patriot 2 Bekasi. Malah guru-gurunya pada killer. Ini benar-benar pagi yang
buruk. Aku langsung buru-buru ke kamar mandi. (Mandi ala kadar) pakai baju,
langsung pakai bedak. Oh no.!! Sisir entah kemana. “aaaarrrrrggghhhhhh” teriakanku. Dan melanjutkan memanggil mama.
“ma... mama.. lihat sepatu hitamku, tidak?” sambil memasang dasi. Okey.. harus
tenang.. tak ada sisir, aku sisir dengan jari-jariku sambil tarik napas panjang
berusaha tenang. “kamu taruh di mana? Mama tak tahu” sahut beliau. Aku melihat
sepatu lain. Sepatu all star berwarna krem. Sempat ragu tapi ini sudah urgent.
Apa boleh buat, langsung ku pakai dengan cepat. Setelah rapih, langsung ku
tancap gas motor yang segera ku laju dengan kecepatan tak wajar. Tapi biasanya
tak seperti itu. Ini karena urgent. Baru mau masuk gerbang dan parkir motor,
ada beberapa karyawan dari yayasan sekolah sudah stay di dekat pos satpam.
“sini.. kamu!” tegurnya bu siti. “ya bu.. sebentar. Saya parkir motor dulu”
jawabku.
Wajah killer ibu siti terpampang
jelas di hadapanku ketika aku sudah berhdapan dengan beliau.
“kenapa terlambat?” tanyanya
begitu tegas sambil bertolak pinggang dan mata melotot. Membuatku sedikit
tertunduk dan takut. Aku pun menjawab dengan santai. “kesiangan, bu”
“sekarang jam berapa?”
“jam 11, bu” kataku, masih
menunduk.
“kamu masuk jam berapa, semalam
ngapain aja emangnya? Malam mingguan?” pertanyaan itu benggeretak hatiku secara
spontan.
“apaan!! Pacar aja saya tidak
punya” bantahku dengan nada lembut. Kenyataannya aku memang memiliki pacar.
Tapi dia sudah bekerja dan umurku dengannya seling 3 tahun.
“bohong sekali kamu!”
Jujur, ini guru apa infotainment.
Kepo sekali ya. Akhirnya aku di tugaskan untuk membersihkan toilet guru.
“yaudah, kamu bersihkan sekarang”
“baik, bu” aku langsung naik ke
ruang kelasku untuk mengambil peralatan kebersihan. Sambil membawa tas aku
sampai di depan kelas ternyata masih ada guru di dalam kelasku. Ku ketuk pintu.
“asslamu’alaikum”
“ya.. masuk” jawab pak amin,
(guru bahasa inggris).
“maaf pak. Saya terlambat. Dan
saya harus membersihkan toilet sekarang”
“yaudah.. silahkan” aku langsung
taruh tasku dan meraih peralatan kebersihan dan aku kembali keluar kelas dengan
tampang agak kesal tapi yaudahlah. Ini memang kesalahanku karena terlambat
sekolah.
Libur telah tiba. Karena ada
ujian nasional untuk kelas XII. Oh iya, aku belum perkenalkan namaku. Namaku
defi putri yoilsu. Lebih banyak orang memanggilku, defi. Nama kekasihku ialah
Andri saputra. Aku dan dia menjalin hubungan baru genap setahun. Dan setiap
liburan, kita menghabiskan waktu untuk naik gunung bersama. Itulah kenapa aku
sangat menyayangi andri. Dia pria yang termasuk romantis. Sebelum aku jadian
dengannya, aku sering sekali di romantiskan olehnya. Saat ia libur dan aku
masih beraktifitas di sekolah. Ia pernah menuliskan sign untukku. Dimana saat
dia berada tepat di puncak mahameru, berfoto sambil memegang selembar kertas.
Pertama kali ia menulis sign di selembar kertas kosong yaitu defi.. i’m in mahameru. Ada kamu disini
pasti jauh lebih menyenangkan. Kapan kita kesini bersama? Yap.. itulah perdana tulisan yang dia
tulisan untukku. Ia kirim foto tersebut melalui BBM. Sudah jelas aku merasa
sangat senang dan merasa di hargai oleh pria. Dari situ aku mulai ada rasa.
Andri bukan hanya romantis, tapi ia juga baik dengan siapa pun, humoris,
perhatian, rajin shalat, dan pemberani dan olahraga ekstrim. Aku suka. Itu
barulah laki-laki sejati. Langka sekali pria seperti itu. Liburan sekolah, aku
chat andri melalui BBM.
“aku seminggu ke depan libur” 15
menit kemudian andri membalas.
“wah.. kebetulan sekali. Aku
masih ada sisa cuti”
“lalu kita akan kemana, ndri?”
“naik gunung dong, sayang.. mau
kenapa lagi coba :]” itu balasan dari andri. Dia memang tahu betul apa yang aku
inginkan tanpa di kasih kode. Andri cowok peka. Aku beruntung memiliki andri.
“nanti jam 5 sore aku pulang
kerja langsung kerumah kamu ya. Bantu kemas barang yang akan di bawa”
“baiklah.. terima kasih,
kesayanganku :]” senang rasanya karena
besok akan naik gunung untuk ke sekian kalinya bersama andri. Orang yang sangat
berarti dalam hidupku. Karena kita memang suka traveling dan pencinta alam.
Sudah jam 5 sore, pasti andri sedang dalam perjalanan. Andri tiba jam 6 sore.
“assalamu’alaikum” aku langsung bergegas buka pintu dan membalas salamnya.
“ya.. walaikumsalam. Akhirnya
datang juga ya. Masuk, ndri” andri pun masuk, dan kebetulan dirumah sedang
tidak ada orang. ibu dan ayah belum pulang kerja.
“ibu sama ayah belum pulang?”
“belum. Eh kamu mau minum apa?
Teh? kopi? Atau air putih dingin? Apa?”
“air putih dingin aja” andri
duduk di ruang tamu dan aku mengambil minum untuknya.
“silahkan di minum. Tuan” andri
hanya tertawa kecil.
“terima kasih, ya”
“oh iya, Sebelum berkemas, kita
shalat maghrib dulu. Aku mau numpang ambil air wudhu, ya?”
“iya.. silahkan” andri bangkit
sambil menggulung lengan bajunya untuk mengambil wudhu.
Andri selesai berwudhu, aku
segera mengambil air wudhu. Setelah siap dan rapih. Aku sudah mengenakan mukena
dan andri hanya dengan kemeja kerjanya. Ia yang jadi imamku. Ini sudah ke
sekian kalinya kita shalat berjama’ah. Setiap kita di tengah perjalanan, kita
hendak berhenti dan mampir ke masjid untuk shalat. Selesai shalat, aku dan
andri langsung mengemas barang yang akan dibawa nantinya untuk naik gunung.
“oh iya, rencananya kita mau naik
gunung apa?”
“gunung merbabu” kata andri
dengan santai.
“waw..”
“kenapa, waw?”
“aku gak yakin bisa sampai
puncak”
“pasti bisa kok”
“ya.. semoga sajalah”
Packing selesai. Ibu dan ayah
baru pulang dan andri pamit untuk pulang kerumahnya.
Esok hari tepat jam 4 subuh, kami
berangkat naik kereta menuju yogyakarta. Di dalam kereta tidak hanya aku dan
andri. Tapi disana juga ada teman-teman andri. Teman pendaki. Dan aku sudah
mengenal mereka sejak awal andri mengajakku naik gunung salak. Karena aku masih
pemula. Kita di dalam kereta kurang lebih seharian. Dan jam 5 subuh sampai di
stasiun yogyakarta. Yang bangun duluan andri. Dia langsung membangunkan aku.
“sayang.. kita sudah sampai” aku
membuka mata secara perlahan. “hhhmm.. oh.. sudah sampai”
Jawabku, masih mengantuk. Di
susul dengan teman-teman lainnya bangun. Dan kami semua turun dengan hati
riang. “andri.. tolong aku. Ini begitu berat” manjaku di hadapan andri. Lalu ia
menolongku sambil tertawa kecil. Semua sudah kumpul.
“okay, lanjut jalan” semua menuju
pendaftaran dan pendata barang yang di bawa private.
Kami mulai berjalan menyusuri
bukit sampai masuk hutan, maendaki dan mendaki. Mengambil jalur selo. Sampai di
pos 3, aku mulai kelelahan. Ini benar-benar lelah. Beda dengan gunung salak,
pdpl masih datar. MT. Merbabu memang lebih tinggi dari gunung salak yang pernah
aku daki. Di tengah hutan, aku berteriak ingin istirahat.
“andri.. aku lelah sekali”
rintihku, dan aku deprok di atas tanah hutan. Andri menghampiriku.
“minum dulu” aku langsung meraih air
mineral yang andri berikan padaku.
“aku lelah, andri”
“ya.. aku paham”
“ternyata gunung merbabu tidak
semudah gunung salak” andri hanya tertawa kecil sambil membersihkan keringat di
wajahnya yang sudah mengucur banyak sekali. Ia duduk tepat di sampingku. Andri
memanggil semua teman-temannya untuk break sebentar.
“padahal ini belum ada
setengahnya, ya. Tapi aku sudah terkapar kaya gini”
“wajar kok.. masih pemula”
Sambil istirahat, aku memeluk
andri. Mungkin karena begitu lelahnya diriku. Aku peluk sambil berkata, “thank
you very much, my sweet heart” andri merespon pelukanku.
Pelukan itu bukan pelukan
negatif, namun pelukan ucapan terima kasih. Karena andri telah mengajarkanku
banyak hal. Yang awalnya manja sekali, perlahan aku jadi lebih mandiri. Lelah ini,
membuatku sadar, begitu berharganya waktu, dan selalu bersyukur untuk semua
yang aku miliki dan lebih dekat dengan Tuhan.
“yaudah.. sekarang kita lanjut
mendaki” Pelukan singkat itu berakhir, aku dan andri bangkit dengan penuh
semangat ingin sampai pada tempat tujuan, yaitu puncak merbabu. Kita semua
melanjutkan pendakian. Aku meraih tasku yang di bawa andri, karena tidak ingin
merepotkan andri. Aku harus mandiri. Tidak boleh bergantung pada siapa pun.
“kamu yakin mau bawa ini?”
“iya dong.. harus kuat” ucapku
dengan tangguh.
“good girl” kata andri sambil
melemparkan senyuman manis di bibirnya.
Ke esokan harinya, tepat jam 4
pagi, aku menginjak puncak merbabu. Sungguh begitu indah ciptaan Tuhan. Lelahku
terbayar sudah oleh pesona rona di puncak merbabu. Ku hayati dengan benar rona
di hadapanku. aku berada di samudera awan. Andri pernah bercerita dan
memperlihatkan foto dirinya berdiri di depan samudera awan. Memang indah. Biasanya aku hanya mendengar dari mulut tentang
samudera awan gunung-gunung tertinggi, hanya melihat dari foto saja. Dan
sekarang, depan mata kepalku langsung aku menatap rona langit di MT. Merbabu.
Ini perdana aku berhasil sampai di puncak paling tinggi yang pernah aku daki.
(ya walaupun baru 2 kali mendaki) hehe.. tapi aku merasa sangat beruntung bisa
berada di puncak ini. Aku dan andri mulai berfoto bersama. Pengalaman yang
sangat mengesankan, trip bersama orang yang paling berharga.
Liburan selanjutnya, andri
mengajakku ke gunung putri menggunakan motor besar. Andri selain anak motor, ia
juga anak motor. Memiliki komuitas motor besar. Wow.. amazing :] butuh waktu 2
jam untuk menempuh perjalanan menuju gunung putri daerah sentul. Sampai masuk
menanjak bukit dan turun lagi. Kita istirahat sejenak.
“masih jauh, ya?” kataku sambil
melahap cemilan snack.
“sebentar lagi, sekita 15 menit
lagi”
“yaudah lanjut jalan saja. Aku
sudah tidak sabar ingin sampai tujuan”
“baiklah” kami melanjutkan
perjalanan. Naik turun bukit dan jalanan yang rawa dan sepi, membuatku sedikit
parno. Aku memiliki ide untuk memutar musik di ponselku, di loudspeaker agar
andri ikut menikmati musiknya. Kebetulan sekali, aku dan andri suka lagu berbau
ganre rock. Aku memutar lagu blink 182 – first date. Itu adalah lagu kejayaan
kita berdua. Banyak cerita dan makna di dalam lagu itu. Kita nyanyi bareng,
andri sambil membawa motor dengan semangat. Rasa lelah sedikit hilang. Sampai
di tempat tujuan. Sebelumnya, harus bayar tiket masuk. Setelah itu, masuk ke
dalam masih meggunakan motor. Ada turunan tinggi sekali.
“hati-hati, ndri” wanti aku.
Perlahan turun, sampai pada akhirnya kita sampai pada tujuan. Andri memarkirkan
motor terlebih dahulu, setelah itu kita jalan sebentar untuk menuju curug
bidadari. Bukit besar terpampang jelas di hadapanku.
“ya ampun.. ini indah sekali.
Tolong foto aku disini, ya” andri mengambil gambarku. Dan kita juga foto berdua
menggunakan tongsis. Sampai di curug bidadari. Andri mengajakku untuk turun dan
berdiri tepat di air terjun.
“ayolah.. tunggu apalagi?” kata
andri.
“aku takut”
“kenapa takut? Kita jauh-jauh
datang kesini. Masa hanya memandangi saja. Memangnya kamu puas tanpa merasakan
sejuknya air terjun ini?”
“tapi aku beneran takut, andri”
aku masih duduk di bebatuan jauh dari air terjun. Sedangkan andri? Ia sudah
melepas sepatu, celana jeans. Karena dia sudah double memakai celana pendek
untuk basah-basahan. Andri sudah berada di bawah air terjun, terlihat seru. Aku
penasaran dan akhirnya aku putuskan untuk turun menyusul andri. Ku copot
aksesories yang aku kenakan, sepatu dan celana jeans. Aku juga double pakai
celana pendek. Aku juga sudah membawa baju ganti. Andri memegang tanganku
dengan erat. Banyak bebatuan yang licin dan kaki terasa sakit, tapi lama-lama
jadi biasa saja. Aku dan andri berada tepat di bawah air terjun. Aku teriak dan
terkejut. “aaaaaaaaaaaaa.... aaaaaaa” teriaku dengan keras. Karena benar-benar
susah napas dan harus kuat menahan runtuhan air terjun. Tapi lama-kelamaan jadi
seru dan enak. Seperti di pijat pundakku. Hehe..
1 tahun kemudian.. aku lulus
Sekolah Menengah Atas (SMA) libur panjang.. senangnya!!
Aku memberi kabar pada andri
bahwa aku punya banyak waktu untuk traveling.
“akhirnya.. lulus juga”
“maksudnya?”
“tidak. Tidak apa-apa”
“lalu kita mau trip kemana?”
“gunung rinjani”
“what?”
“tenang saja.. kamu pasti bisa
sampai puncak”
“segitu yakinnya?”
“ya.. aku yakin kamu bisa. Dan
disana aku mau memberi kejutan untukmu kalau kita berhasil sampai di puncak
rinjani”
“kejutan apa?”
“ada deh. Penasaran ya?” ledeknya
di dalam telepon.
“yaudah.. aku kerja lagi ya. Love
you”
aku menutup ponselku. Dan masih
penasaran tentang obrolan barusan. Andri mau memberi kejutan? Kejutan apa ya?
Ungkapan andri tadi membuatku penasaran. Andri setiap saat memang selalu
memberikan kejutan-kejutan yang begitu mengesankan. Aku tidak sabar menunggu
kejutan itu datang. Sudah di hari yang di tunggu-tunggu. Aku dan andri berkemas
dan berangkat untuk menuju gunung rinjani. Tidak lupa di iringi dengan doa.
Pendakian dimulai.. melewati
beberapa pos.. dan akhirnya berhasil sampai tujuan. Harapanku dan andri
tercapai, kini kita menginjak di puncak rinjani. Menggunakn jaket yang begitu
super tebal. Menggunakan sarung tangan tebal, dan kupluk untun melindungi
kupingku yang telah kedinginan. Andri tiba-tiba meraih jemariku dan ia pegang
begitu erat. Sampai terasa hangat dan aku nyaman ketika andri memegangnya.
Andri mengeluarkan satu lembar kertas yang bertuliskan. Will u mary me? Aku terkejut. Hanya menatap andri.
“di puncak rinjani, yang telah
menjadi saksi. Apakah kamu mau melengkapi hidupku? Menghabiskan waktu
bersamaku, menjadi ibu dari anak-anakku? Menikmati keindahan alam ini bersama
keluarga kecil kita nant?” ungkap andri dengan menghayati. Ia mengeluarkan
sebuah kotak yang berisi cincin berlian yang indah sekali.
“tapi aku baru saja melepas masa
SMA. Secepat inikah?”
“ya.. aku tahu. Anggap saja aku
baru melamar kamu”
“aku bangga sama kamu, kamu pria
terhebat bagi aku. Kamu mengajarkanku banyak hal lewat mendaki. Bagaimana
mencintai alam, bagaimana menghargai waktu dan bagaimana cara bersyukur. Dari
yang aku manja banget. Sampai aku seperti ini. Aku berada di gunung tertinggi
bagi aku. Perjalanan yang sangat mengagumkan. Tidak hanya itu, kamu juga bisa
menjadi imamku. Kita shalat bareng dimana kita berada. Di tengah perjalanan
mampir untuk shalat dan di atas puncak gunung kita pun shalat bersama. Aku mau
menghabiskan waktu bersamamu” ungkapku.
“kamu serius?”
“ya” Andri langsung memasangkan cincin
di jari manisku. Gunung rinjani-lah yang telah menajdi saksi bisu, tentang
sejarah ini. Sejarah dimana andri melamarku.
“kita habiskan waktu
bersama, susah senang seperti halnya saat kita mendaki. Lelah bersama dan bahagia
bersama. Menatap rona langit bersama. Menghabiskan waktu bersama alam untuk
lebih dekat dengan Tuhan” ungkapan andri terakhir itu buat aku terharu dan
bangga. Dan disitu kita menikmati keindahan puncak rinjani dengan penuh rasa
syukur.
( blog post ini di buat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Awesome journey" diselenggarakan oleh yayasan kehati dan nulisbuku.com )
( blog post ini di buat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Awesome journey" diselenggarakan oleh yayasan kehati dan nulisbuku.com )