di
j.co donuts and coffee aku sudah meraih donat coklat dan coklat panas yang kini
aku genggam. Hanya ini satu-satunya yang mungkin akan bisa menenangkan hati dan
pikiranku yang galau merana hambar saat ini. Lalu Aku mencari tempat duduk senyaman mungkin. Aku menemukan tempat
yang cocok untuk menulis. Aku memilih untuk duduk di area dalam paling pojok.
Aku bergegas dengan riang ke tempat duduk tersebut. Saat aku menaruh donat dan
coklat panasku, ada seseorang juga meletakan makanannya di meja yang aku pilih.
Dia itu seorang pria tampan, tinggi, putih. Perfecto abis. Aku langsung
mengurung niat dan meraih kembali makananku. “eh.. gapapa kamu aja yang duduk
disini. Biarku cari tempat lain” katanya sambil tersenyum. Dia bilang seperti
itu, aku langsung duduk saja tanpa basa basi. Tapi kini menjadi dingin. Elo
elo, gue gue. Begitulah yang ada di pikiran saya. Tidak perduli lagi. Pria itu
melihat di sekeliling area j.co. ternyata tak ada satupun tempat duduk yang
sepi. Terisi semua. Dia mulai garuk kepala karena bingung mau duduk dimana. Aku
hanya memperhatikan saja. Dia melirikku dan berkata “maaf.. saya boleh duduk
disini ga? Kayanya tempat duduk ga ada yang kosong deh. Bolehkah?” tuturnya agak
gugup. “ya.. boleh” jawabku dengan tersenyum dingin. Pria itu dengan
senang hati langsung duduk tepat di hadapanku. Aku mulai mengeluarkan laptop
mengerjakan tugas. saat sibuk menulis, tak lama pria itu memecahkan
ke-awkward-an dengan membuka percakapan. “kita duduk bareng kaya gini tapi
belum tau nama. saya andri” pria itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan
denganku, “saya mira” kami saling berjabat tangan. sudah 2 jam kita duduk
bersama. Saling berbicara dan bertukar pikiran. Aku merasa nyambung saat
berdialog dengan andri. Pria yang baru beberapa jam aku kenal, tapi aku merasa
sudah seperti ketemu teman SD saja. Ketawa cekikikan kayak orang nostalgia. Ada
saja bahan obyek yang membuat kita tertawa. Baru ini aku tertawa selepas kayak
gini. Udah lama banget gak ngobrol panjang lebar dengan lawan jenis. Biasanya
aku hanya berdialog yang penting saja. Bicara seadanya. Tapi dengan andri aku
merasa uneg-uneg yang selama ini aku pendam keluar sudah dan sedikit terbayar
sudah dengan kekonyolannya yang membuat aku tertawa lepas. Saat aku melanjutkam
menulis dan andri sibuk dengan ponselnya sambil melahap donat rasa coklat, Ia
menyodorkan ponselnya.
“boleh
minta nomer telepon?” aku lirik dengan
bingung. “boleh” jawabku.
“sekalian
sama pin kamu ya. Hehehe” tuturnya, saat aku masih memasukan nomerku di
ponselnya. Dia barkot pinku. “thanks ya” katanya penuh senyum. Aku cuma balas
dengan senyuman.
Pagi
hari, aku di taman kampus sedang melanjutkan tulisanku sambil menunggu jam
kelas. Bbm berbunyi.
“selamat
pagi” chat dari andri. Aku read dan aku balas.
“selamat
pagi, andri”
“lagi
ngapain?”
“lagi
dikampus. Lagi nulis”
“oh..
kamu kuliah dimana?”
“di
univ, trisakti. Kenapa?”
“rencananya
mau ngajak makan siang, bisa?”
Aku
belum read, rasanya malas. Tapi aku coba pikir ulang dan untuk tidak di read
dulu. Jarum jam sudah menunjukkan ke arah 10. Aku sudahi nulisnya, aku tutup
laptop dan bangkit untuk masuk kelas. Aku fokus dengan dosen yang sedang
menerangkan di depan kelas. Sama sekali aku tidak memikirkan ajakan andri.
Karna sebentar lagi aku akan menghadapi sidang skripsi. Jam kelasku telah
berakhir..aku membereskan buku-buku. Aku cek ponsel, andri chat “gimana nanti siang bisa?” dan PING sampai 10 kali. Aku langsung balas chatnya.
Setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya buka hati untuk andri. Sepertinya
dia baik. “ok.. boleh. Jam berapa? Maaf saya baru keluar kelas”
“sekarang
ya”
“ok.”
Terakhir aku balas dan kita tidak chat-an lagi. Aku langsung menuju kantin
bersama teman-teman kampus. andri sudah ada di depan gerbang kampusku. Ia
menunggangi motor vespa berwarna cream. Aku hampiri dengan raut wajah biasa
saja. Tidak seperti anak remaja lain, kalau ketemu gebetan pasti langsung
senyum bahagia. Tidak..! aku tidak seperti itu. Entahlah.! Kini Aku sudah di
hadapannya. Terlihat jelas di wajah andri begitu senang saat aku datang, ia
paparkan senyuman manis.
“berangkat
sekarang?” tanya andri, aku hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Ia langsung
memberikan helm untukku. Andri langsung menancap gas. Kami sudah sampai tujuan.
Makan siang di angle in us coffee. Kita duduk di dekat jendela.
“kamu
kenapa diam aja dari tadi”
“masa
sih? Perasaan kamu saja”
“saya
liat ada yang sedang kamu pikirin. Ada apa?”
“Mungkin
karena capek abis pulang kuliah. Saya gapapa”
“yakin?”
tanyanya. Saya hanya mengangguk saja sambil senyum. Padahal dugaannya benar. Aku
memang sedang banyak pikiran. Entah kenapa.. aku merasa tidak nyaman berada di
kafe ini. Tapi kayaknya bukan karena kafenya yang buatku tidak nyaman. Kafe ini
terlihat baik, tentram dengan alunan denting pioano. Dekorasi ala korea
western. Jadi apa yang membuatku tidak nyaman? Ini bukan hukum alam, tapi hukum
manusia. Aku lagi banyak pikiran. Suasana jadi terasa tidak nyaman. Geresang,
aneh. Rasanya mau pulang dan tidur saja di kasur. Rasanya sangat malas untuk
membuka percakapan. Andri menawarkan menu padaku.
“mau
makan apa?”
“saya
pesan java chocolate chip frappe saja”
“gak
makan?”
“saya
lagi gak pengen makan”
“baiklah” ia bergegas ke kasir untuk memesan minuman.
aku hanya duduk bersandar sambil memainkan ponsel. Buka bbm, buka LINE, buka
instagram. Aku melihat sesuatu di instagram, melihat tanpa kedip. aku tarik nafas
panjang sampai menghembuskannya kembali. Frontal sekali perubahan wajahku, aku terpukau
melihat foto tersebut. Sampai aku tak sadar andri sudah duduk di dekatku sambil
memanggil namaku berulang kali. “hey.. mira.. heloooo” panggilan terakhir sambil melambaikan telapak
tangannya tepat depan mataku. Aku langsung tersentak sadar, kakiku terbentur
meja. Karena kaget.
“aaawww...
ssssssh” rintihku.
“yang
mana yang sakit. kamu kenapa sih?”
“gapapa
kok” jawab mira dan masih mengelus
tulang kering di kakinya, masih terasa nyeri.
“apanya
yang tidak apa-apa? Dari tadi saya menggilin kamu tapi kamunya gak dengar,
mir!”
“masa
sih?”
“ya”
“yaudah..
maaf ya. Tadi saya lagi kaget aja”
“ada
apa? Saya siap dengar ceritamu. Seriously”
“kamu
yakin?”
“kenapa
tidak? Saya gak ngelarang siapapun untuk cerita dengan saya”
“ok”
“Apa
yang membuat kamu kaget?” tanya andri.
Sepertinya
andri pria baik. Apakah aku harus cerita? Kalau misalkan aku cerita, apa
jadinya ya? Apalagi aku baru dekat dengan andri. Ah sudahlah cerita saja. Toh
kalau memang andri pria baik, dia pasti mengerti keadaanku.
“kamu
masih gak percaya dengan saya?” tanya andri.
“saya
percaya sama kamu. Baiklah.. saya akan ceritakan semuanya”
“barusan
saya liat foto mantan saya dengan pacarnya” kataku. Tapi ia hanya mengkerutkan
kening, tidak paham betul dengan ucapanku. Karena aku tidak cerita dari awal
tapi langsung to the point dengan apa yang aku lihat barusan. Dan aku langsung
cerita dari awal hingga akhir.
“kalau
boleh jujur, saya sampai detik ini belum bisa move on dari mantan. 5 tahun saya
menjadi kekasihnya, 7 tahun lalu kita berpisah. Udah 2 tahun ini saya gak bisa
move on. Dan sudah 1 tahun ini dia gak memberi kabar apapun. Saya pun sedih, galau.
Bingung harus apa. saya Sempat gak percaya lagi dengan kata-kata cinta. Dia itu
udah ngeduain saya, alias selingkuh. Saya ngemis, nangis di depan dia supaya
gak putus. Tapi dia tetap kekeh sama keputusannya. Sampai pada akhirnya, dia
lebih memilih gadis itu daripadaku. And then.. Selama berpisah dengannya, saya coba
mengambil kesibukan dengan cara menulis. sudah 2 buku saya terbitkan, tapi?
Justru itu tidak setimpal balik. Saya masih suka stalk instagram dia. Yang saya
rasain saat ini hambar banget, sunyi. Saya dengar kabar, kalau dia akan menikah
secepatnya. entahlah..saya juga bingung gimana ke depannya” begitu detailnya
mira bercerita. andri mendengarkan dengan serius. Setelah cerita panjang lebar,
aku sruput minumanku. Setidaknya coklat panas ini akan membuatku jauh lebih tenang.
Beberapa detik kemudian, andri membuka
percakapan.
“saya
boleh jujur?”
“gak
ada yang ngelarang kamu buat jujur.”
“saya
tau kita baru kenal, tapi saya juga gak tau definisi dari kata cinta pada
pandangan pertama. Yang jelas.. saat kita ketemu di j.co kemarin, saat kita
bercerita sampai tertawa lepas. Itu benar-benar buat saya ngerasa nyaman
banget. Saya baru kali ini, suka pada pandangan pertama” tutur andri, dengan
serius sekali sambil menatapku.
“lalu?” kataku. aku sudah tak kaget lagi. Sebelum andri, banyak yang seperti ini. Tapi aku
tidak respect. “ya.. saya tau kamu belum bisa move on, susah buka hati. Saya
paham. Tapi disini, saya akan janji akan bantu kamu buat lupain mantan kamu.
Saya akan buat hari-hari kamu lebih berwarna lagi, melebihi warna yang pernah
mantan kamu berikan padamu sebelumnya. Jujur, saya gak gampang suka sama
wanita. Karena sebelumnya saya sama seperti kamu. Tapi setelah ketemu kamu,
rasa cinta itu hidup lagi” katanya,
penuh keseriusan.
“saya
bukannya gak mau, tapi hati ini masih tertutup. Saya pun bingung. Saya percaya
kamu pria baik” tuturku Sambil tertawa kecil. Andri tarik nafas panjang lalu
dihembuskan.
“mulai
dari sini, kita bangun cinta sama-sama, kita susah senang sama-sama” kata-kata
terakhir andri membuatku tersentuh. Laki-laki sebelumnya belum pernah
meyakinkanku sampai kaya gini. Aku pun membuka hati untuk andri. "baiklah. aku akan buka hati untuk kamu" tuturku dengan pelan.
"kamu mau menjadi pacarku?" tembakan andri.
"ya.. aku mau. aku sudah mulai menaruh hati dan kepercayaan padamu. tolong di jaga" pesanku.
"baiklah." jawab andri sambil tersenyum lebar bahagia. lalu Kita resmi berpacaran. Hari-hari aku lewati bersama andri, ternyata benar. Andri berhasil menyembuhkan lukaku dengan caranya sendiri. Hari-hariku semakin berwarna. Andri banyak sekali mengajarkanku rasa syukur dan arti kehidupan. Aku beruntung bisa bertemu andri. Tidak terasa, 1 tahun kami berpacaran, dan andri melamarku. Sampai pada akhirnya kita menikah dan memiliki 2 malaikat kecil yang lucu-lucu. Aku bersyukur. Tuhan merancang skenario kehidupanku dengan ending yang begitu bahagia. Alhamdulillah.. terima kasih, cinta. Pahit buruknya, aku percaya cinta sejati akan datang. Dan aku di percayai Tuhan. Kesedihanku di ganti dengan kebahagiaan. dan Aku percaya, aku layak mendapatkan ini
"kamu mau menjadi pacarku?" tembakan andri.
"ya.. aku mau. aku sudah mulai menaruh hati dan kepercayaan padamu. tolong di jaga" pesanku.
"baiklah." jawab andri sambil tersenyum lebar bahagia. lalu Kita resmi berpacaran. Hari-hari aku lewati bersama andri, ternyata benar. Andri berhasil menyembuhkan lukaku dengan caranya sendiri. Hari-hariku semakin berwarna. Andri banyak sekali mengajarkanku rasa syukur dan arti kehidupan. Aku beruntung bisa bertemu andri. Tidak terasa, 1 tahun kami berpacaran, dan andri melamarku. Sampai pada akhirnya kita menikah dan memiliki 2 malaikat kecil yang lucu-lucu. Aku bersyukur. Tuhan merancang skenario kehidupanku dengan ending yang begitu bahagia. Alhamdulillah.. terima kasih, cinta. Pahit buruknya, aku percaya cinta sejati akan datang. Dan aku di percayai Tuhan. Kesedihanku di ganti dengan kebahagiaan. dan Aku percaya, aku layak mendapatkan ini