Thursday, 7 May 2015

Terima kasih Cinta..



di j.co donuts and coffee aku sudah meraih donat coklat dan coklat panas yang kini aku genggam. Hanya ini satu-satunya yang mungkin akan bisa menenangkan hati dan pikiranku yang galau merana hambar saat ini. Lalu Aku mencari tempat  duduk senyaman mungkin. Aku menemukan tempat yang cocok untuk menulis. Aku memilih untuk duduk di area dalam paling pojok. Aku bergegas dengan riang ke tempat duduk tersebut. Saat aku menaruh donat dan coklat panasku, ada seseorang juga meletakan makanannya di meja yang aku pilih. Dia itu seorang pria tampan, tinggi, putih. Perfecto abis. Aku langsung mengurung niat dan meraih kembali makananku. “eh.. gapapa kamu aja yang duduk disini. Biarku cari tempat lain” katanya sambil tersenyum. Dia bilang seperti itu, aku langsung duduk saja tanpa basa basi. Tapi kini menjadi dingin. Elo elo, gue gue. Begitulah yang ada di pikiran saya. Tidak perduli lagi. Pria itu melihat di sekeliling area j.co. ternyata tak ada satupun tempat duduk yang sepi. Terisi semua. Dia mulai garuk kepala karena bingung mau duduk dimana. Aku hanya memperhatikan saja. Dia melirikku dan berkata “maaf.. saya boleh duduk disini ga? Kayanya tempat duduk ga ada yang kosong deh. Bolehkah?” tuturnya agak gugup.  “ya.. boleh”  jawabku dengan tersenyum dingin. Pria itu dengan senang hati langsung duduk tepat di hadapanku. Aku mulai mengeluarkan laptop mengerjakan tugas. saat sibuk menulis, tak lama pria itu memecahkan ke-awkward-an dengan membuka percakapan. “kita duduk bareng kaya gini tapi belum tau nama. saya andri” pria itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku, “saya mira” kami saling berjabat tangan. sudah 2 jam kita duduk bersama. Saling berbicara dan bertukar pikiran. Aku merasa nyambung saat berdialog dengan andri. Pria yang baru beberapa jam aku kenal, tapi aku merasa sudah seperti ketemu teman SD saja. Ketawa cekikikan kayak orang nostalgia. Ada saja bahan obyek yang membuat kita tertawa. Baru ini aku tertawa selepas kayak gini. Udah lama banget gak ngobrol panjang lebar dengan lawan jenis. Biasanya aku hanya berdialog yang penting saja. Bicara seadanya. Tapi dengan andri aku merasa uneg-uneg yang selama ini aku pendam keluar sudah dan sedikit terbayar sudah dengan kekonyolannya yang membuat aku tertawa lepas. Saat aku melanjutkam menulis dan andri sibuk dengan ponselnya sambil melahap donat rasa coklat, Ia menyodorkan ponselnya.
“boleh minta nomer telepon?”  aku lirik dengan bingung. “boleh” jawabku.
“sekalian sama pin kamu ya. Hehehe” tuturnya, saat aku masih memasukan nomerku di ponselnya. Dia barkot pinku. “thanks ya” katanya penuh senyum. Aku cuma balas dengan senyuman.
Pagi hari, aku di taman kampus sedang melanjutkan tulisanku sambil menunggu jam kelas. Bbm berbunyi.
“selamat pagi” chat dari andri. Aku read dan aku balas.
“selamat pagi, andri”
“lagi ngapain?”
“lagi dikampus. Lagi nulis”
“oh.. kamu kuliah dimana?”
“di univ, trisakti. Kenapa?”
“rencananya mau ngajak makan siang, bisa?”
Aku belum read, rasanya malas. Tapi aku coba pikir ulang dan untuk tidak di read dulu. Jarum jam sudah menunjukkan ke arah 10. Aku sudahi nulisnya, aku tutup laptop dan bangkit untuk masuk kelas. Aku fokus dengan dosen yang sedang menerangkan di depan kelas. Sama sekali aku tidak memikirkan ajakan andri. Karna sebentar lagi aku akan menghadapi sidang skripsi. Jam kelasku telah berakhir..aku membereskan buku-buku. Aku cek ponsel, andri chat “gimana nanti siang bisa?” dan PING  sampai 10 kali. Aku langsung balas chatnya. Setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya buka hati untuk andri. Sepertinya dia baik. “ok.. boleh. Jam berapa? Maaf saya baru keluar kelas”
“sekarang ya”
“ok.” Terakhir aku balas dan kita tidak chat-an lagi. Aku langsung menuju kantin bersama teman-teman kampus. andri sudah ada di depan gerbang kampusku. Ia menunggangi motor vespa berwarna cream. Aku hampiri dengan raut wajah biasa saja. Tidak seperti anak remaja lain, kalau ketemu gebetan pasti langsung senyum bahagia. Tidak..! aku tidak seperti itu. Entahlah.! Kini Aku sudah di hadapannya. Terlihat jelas di wajah andri begitu senang saat aku datang, ia paparkan senyuman manis.
“berangkat sekarang?” tanya andri, aku hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Ia langsung memberikan helm untukku. Andri langsung menancap gas. Kami sudah sampai tujuan. Makan siang di angle in us coffee. Kita duduk di dekat jendela.
“kamu kenapa diam aja dari tadi”
“masa sih? Perasaan kamu saja”
“saya liat ada yang sedang kamu pikirin. Ada apa?”
“Mungkin karena capek abis pulang kuliah. Saya gapapa”
“yakin?” tanyanya. Saya hanya mengangguk saja sambil senyum. Padahal dugaannya benar. Aku memang sedang banyak pikiran. Entah kenapa.. aku merasa tidak nyaman berada di kafe ini. Tapi kayaknya bukan karena kafenya yang buatku tidak nyaman. Kafe ini terlihat baik, tentram dengan alunan denting pioano. Dekorasi ala korea western. Jadi apa yang membuatku tidak nyaman? Ini bukan hukum alam, tapi hukum manusia. Aku lagi banyak pikiran. Suasana jadi terasa tidak nyaman. Geresang, aneh. Rasanya mau pulang dan tidur saja di kasur. Rasanya sangat malas untuk membuka percakapan. Andri menawarkan menu padaku.
“mau makan apa?”
“saya pesan java chocolate chip frappe saja”
“gak makan?”
“saya lagi gak pengen makan”
“baiklah”  ia bergegas ke kasir untuk memesan minuman. aku hanya duduk bersandar sambil memainkan ponsel. Buka bbm, buka LINE, buka instagram. Aku melihat sesuatu di instagram, melihat tanpa kedip. aku tarik nafas panjang sampai menghembuskannya kembali. Frontal sekali perubahan wajahku, aku terpukau melihat foto tersebut. Sampai aku tak sadar andri sudah duduk di dekatku sambil memanggil namaku berulang kali. “hey.. mira.. heloooo”  panggilan terakhir sambil melambaikan telapak tangannya tepat depan mataku. Aku langsung tersentak sadar, kakiku terbentur meja. Karena kaget.
“aaawww... ssssssh”  rintihku.
“yang mana yang sakit. kamu kenapa sih?”
“gapapa kok”  jawab mira dan masih mengelus tulang kering di kakinya, masih terasa nyeri.
“apanya yang tidak apa-apa? Dari tadi saya menggilin kamu tapi kamunya gak dengar, mir!”
“masa sih?”
“ya”
“yaudah.. maaf ya. Tadi saya lagi kaget aja”
“ada apa? Saya siap dengar ceritamu. Seriously”
“kamu yakin?”
“kenapa tidak? Saya gak ngelarang siapapun untuk cerita dengan saya”
“ok”
“Apa yang membuat kamu kaget?” tanya andri.
Sepertinya andri pria baik. Apakah aku harus cerita? Kalau misalkan aku cerita, apa jadinya ya? Apalagi aku baru dekat dengan andri. Ah sudahlah cerita saja. Toh kalau memang andri pria baik, dia pasti mengerti keadaanku.
“kamu masih gak percaya dengan saya?” tanya andri.
“saya percaya sama kamu. Baiklah.. saya akan ceritakan semuanya”
“barusan saya liat foto mantan saya dengan pacarnya” kataku. Tapi ia hanya mengkerutkan kening, tidak paham betul dengan ucapanku. Karena aku tidak cerita dari awal tapi langsung to the point dengan apa yang aku lihat barusan. Dan aku langsung cerita dari awal hingga akhir.
“kalau boleh jujur, saya sampai detik ini belum bisa move on dari mantan. 5 tahun saya menjadi kekasihnya, 7 tahun lalu kita berpisah. Udah 2 tahun ini saya gak bisa move on. Dan sudah 1 tahun ini dia gak memberi kabar apapun. Saya pun sedih, galau. Bingung harus apa. saya Sempat gak percaya lagi dengan kata-kata cinta. Dia itu udah ngeduain saya, alias selingkuh. Saya ngemis, nangis di depan dia supaya gak putus. Tapi dia tetap kekeh sama keputusannya. Sampai pada akhirnya, dia lebih memilih gadis itu daripadaku. And then.. Selama berpisah dengannya, saya coba mengambil kesibukan dengan cara menulis. sudah 2 buku saya terbitkan, tapi? Justru itu tidak setimpal balik. Saya masih suka stalk instagram dia. Yang saya rasain saat ini hambar banget, sunyi. Saya dengar kabar, kalau dia akan menikah secepatnya. entahlah..saya juga bingung gimana ke depannya” begitu detailnya mira bercerita. andri mendengarkan dengan serius. Setelah cerita panjang lebar, aku sruput minumanku. Setidaknya coklat panas ini akan membuatku jauh lebih tenang. Beberapa detik kemudian,  andri membuka percakapan.
“saya boleh jujur?”
“gak ada yang ngelarang kamu buat jujur.”
“saya tau kita baru kenal, tapi saya juga gak tau definisi dari kata cinta pada pandangan pertama. Yang jelas.. saat kita ketemu di j.co kemarin, saat kita bercerita sampai tertawa lepas. Itu benar-benar buat saya ngerasa nyaman banget. Saya baru kali ini, suka pada pandangan pertama” tutur andri, dengan serius sekali sambil menatapku.
“lalu?” kataku. aku sudah tak kaget lagi. Sebelum andri, banyak yang seperti ini. Tapi aku tidak respect. “ya.. saya tau kamu belum bisa move on, susah buka hati. Saya paham. Tapi disini, saya akan janji akan bantu kamu buat lupain mantan kamu. Saya akan buat hari-hari kamu lebih berwarna lagi, melebihi warna yang pernah mantan kamu berikan padamu sebelumnya. Jujur, saya gak gampang suka sama wanita. Karena sebelumnya saya sama seperti kamu. Tapi setelah ketemu kamu, rasa cinta itu hidup lagi”  katanya, penuh keseriusan.
“saya bukannya gak mau, tapi hati ini masih tertutup. Saya pun bingung. Saya percaya kamu pria baik” tuturku Sambil tertawa kecil. Andri tarik nafas panjang lalu dihembuskan.
“mulai dari sini, kita bangun cinta sama-sama, kita susah senang sama-sama” kata-kata terakhir andri membuatku tersentuh. Laki-laki sebelumnya belum pernah meyakinkanku sampai kaya gini. Aku pun membuka hati untuk andri. "baiklah. aku akan buka hati untuk kamu" tuturku dengan pelan.
"kamu mau menjadi pacarku?" tembakan andri.
"ya.. aku mau. aku sudah mulai menaruh hati dan kepercayaan padamu. tolong di jaga" pesanku.
"baiklah." jawab andri sambil tersenyum lebar bahagia. lalu Kita resmi berpacaran. Hari-hari aku lewati bersama andri, ternyata benar. Andri berhasil menyembuhkan lukaku dengan caranya sendiri. Hari-hariku semakin berwarna. Andri banyak sekali mengajarkanku rasa syukur dan arti kehidupan. Aku beruntung bisa bertemu andri. Tidak terasa, 1 tahun kami berpacaran, dan andri melamarku. Sampai pada akhirnya kita menikah dan memiliki 2 malaikat kecil yang lucu-lucu. Aku bersyukur. Tuhan merancang skenario kehidupanku dengan ending yang begitu bahagia. Alhamdulillah.. terima kasih, cinta. Pahit buruknya, aku percaya cinta sejati akan datang. Dan aku di percayai Tuhan. Kesedihanku di ganti dengan kebahagiaan. dan Aku percaya, aku layak mendapatkan ini

No comments:

Post a Comment