Saturday, 27 June 2015

Menatap rona Langit




“krriiiiiiiiiinggggggiinggggg... kriiiiingggiiiinnggg”  bunyi alarm. ku buka mata secara perlahan. Sambil melihat jam weker,  masih keadaan mata kriyep. “astaghfirullooh...”  ucapan pertamaku di pagi hari. Oh, bukan..! lebih tepatnya pagi menjelang siang. Tepat jam 10.00 WIB. Jarum jam terpampang jelas di wajahku. Hari pertama masuk di sekolah SMK Patriot 2 Bekasi. Malah guru-gurunya pada killer. Ini benar-benar pagi yang buruk. Aku langsung buru-buru ke kamar mandi. (Mandi ala kadar) pakai baju, langsung pakai bedak. Oh no.!! Sisir entah kemana. “aaaarrrrrggghhhhhh”  teriakanku. Dan melanjutkan memanggil mama. “ma... mama.. lihat sepatu hitamku, tidak?” sambil memasang dasi. Okey.. harus tenang.. tak ada sisir, aku sisir dengan jari-jariku sambil tarik napas panjang berusaha tenang. “kamu taruh di mana? Mama tak tahu” sahut beliau. Aku melihat sepatu lain. Sepatu all star berwarna krem. Sempat ragu tapi ini sudah urgent. Apa boleh buat, langsung ku pakai dengan cepat. Setelah rapih, langsung ku tancap gas motor yang segera ku laju dengan kecepatan tak wajar. Tapi biasanya tak seperti itu. Ini karena urgent. Baru mau masuk gerbang dan parkir motor, ada beberapa karyawan dari yayasan sekolah sudah stay di dekat pos satpam. “sini.. kamu!” tegurnya bu siti. “ya bu.. sebentar. Saya parkir motor dulu” jawabku.
Wajah killer ibu siti terpampang jelas di hadapanku ketika aku sudah berhdapan dengan beliau.
“kenapa terlambat?” tanyanya begitu tegas sambil bertolak pinggang dan mata melotot. Membuatku sedikit tertunduk dan takut. Aku pun menjawab dengan santai. “kesiangan, bu”
“sekarang jam berapa?”
“jam 11, bu” kataku, masih menunduk.
“kamu masuk jam berapa, semalam ngapain aja emangnya? Malam mingguan?” pertanyaan itu benggeretak hatiku secara spontan.
“apaan!! Pacar aja saya tidak punya” bantahku dengan nada lembut. Kenyataannya aku memang memiliki pacar. Tapi dia sudah bekerja dan umurku dengannya seling 3 tahun.
“bohong sekali kamu!”
Jujur, ini guru apa infotainment. Kepo sekali ya. Akhirnya aku di tugaskan untuk membersihkan toilet guru. “yaudah, kamu bersihkan sekarang”
“baik, bu” aku langsung naik ke ruang kelasku untuk mengambil peralatan kebersihan. Sambil membawa tas aku sampai di depan kelas ternyata masih ada guru di dalam kelasku. Ku ketuk pintu.
“asslamu’alaikum”
“ya.. masuk” jawab pak amin, (guru bahasa inggris).
“maaf pak. Saya terlambat. Dan saya harus membersihkan toilet sekarang”
“yaudah.. silahkan” aku langsung taruh tasku dan meraih peralatan kebersihan dan aku kembali keluar kelas dengan tampang agak kesal tapi yaudahlah. Ini memang kesalahanku karena terlambat sekolah.

Libur telah tiba. Karena ada ujian nasional untuk kelas XII. Oh iya, aku belum perkenalkan namaku. Namaku defi putri yoilsu. Lebih banyak orang memanggilku, defi. Nama kekasihku ialah Andri saputra. Aku dan dia menjalin hubungan baru genap setahun. Dan setiap liburan, kita menghabiskan waktu untuk naik gunung bersama. Itulah kenapa aku sangat menyayangi andri. Dia pria yang termasuk romantis. Sebelum aku jadian dengannya, aku sering sekali di romantiskan olehnya. Saat ia libur dan aku masih beraktifitas di sekolah. Ia pernah menuliskan sign untukku. Dimana saat dia berada tepat di puncak mahameru, berfoto sambil memegang selembar kertas. Pertama kali ia menulis sign di selembar kertas kosong yaitu defi.. i’m in mahameru. Ada kamu disini pasti jauh lebih menyenangkan. Kapan kita kesini bersama?  Yap.. itulah perdana tulisan yang dia tulisan untukku. Ia kirim foto tersebut melalui BBM. Sudah jelas aku merasa sangat senang dan merasa di hargai oleh pria. Dari situ aku mulai ada rasa. Andri bukan hanya romantis, tapi ia juga baik dengan siapa pun, humoris, perhatian, rajin shalat, dan pemberani dan olahraga ekstrim. Aku suka. Itu barulah laki-laki sejati. Langka sekali pria seperti itu. Liburan sekolah, aku chat andri melalui BBM.
“aku seminggu ke depan libur” 15 menit kemudian andri membalas.
“wah.. kebetulan sekali. Aku masih ada sisa cuti”
“lalu kita akan kemana, ndri?”
“naik gunung dong, sayang.. mau kenapa lagi coba :]” itu balasan dari andri. Dia memang tahu betul apa yang aku inginkan tanpa di kasih kode. Andri cowok peka. Aku beruntung memiliki andri.
“nanti jam 5 sore aku pulang kerja langsung kerumah kamu ya. Bantu kemas barang yang akan di bawa”
“baiklah.. terima kasih, kesayanganku :]”  senang rasanya karena besok akan naik gunung untuk ke sekian kalinya bersama andri. Orang yang sangat berarti dalam hidupku. Karena kita memang suka traveling dan pencinta alam. Sudah jam 5 sore, pasti andri sedang dalam perjalanan. Andri tiba jam 6 sore. “assalamu’alaikum” aku langsung bergegas buka pintu dan membalas salamnya.
“ya.. walaikumsalam. Akhirnya datang juga ya. Masuk, ndri” andri pun masuk, dan kebetulan dirumah sedang tidak ada orang. ibu dan ayah belum pulang kerja.
“ibu sama ayah belum pulang?”
“belum. Eh kamu mau minum apa? Teh? kopi? Atau air putih dingin? Apa?”
“air putih dingin aja” andri duduk di ruang tamu dan aku mengambil minum untuknya.
“silahkan di minum. Tuan” andri hanya tertawa kecil.
“terima kasih, ya”
“oh iya, Sebelum berkemas, kita shalat maghrib dulu. Aku mau numpang ambil air wudhu, ya?”
“iya.. silahkan” andri bangkit sambil menggulung lengan bajunya untuk mengambil wudhu.
Andri selesai berwudhu, aku segera mengambil air wudhu. Setelah siap dan rapih. Aku sudah mengenakan mukena dan andri hanya dengan kemeja kerjanya. Ia yang jadi imamku. Ini sudah ke sekian kalinya kita shalat berjama’ah. Setiap kita di tengah perjalanan, kita hendak berhenti dan mampir ke masjid untuk shalat. Selesai shalat, aku dan andri langsung mengemas barang yang akan dibawa nantinya untuk naik gunung.
“oh iya, rencananya kita mau naik gunung apa?”
“gunung merbabu” kata andri dengan santai.
“waw..”
“kenapa, waw?”
“aku gak yakin bisa sampai puncak”
“pasti bisa kok”
“ya.. semoga sajalah”
Packing selesai. Ibu dan ayah baru pulang dan andri pamit untuk pulang kerumahnya.
Esok hari tepat jam 4 subuh, kami berangkat naik kereta menuju yogyakarta. Di dalam kereta tidak hanya aku dan andri. Tapi disana juga ada teman-teman andri. Teman pendaki. Dan aku sudah mengenal mereka sejak awal andri mengajakku naik gunung salak. Karena aku masih pemula. Kita di dalam kereta kurang lebih seharian. Dan jam 5 subuh sampai di stasiun yogyakarta. Yang bangun duluan andri. Dia langsung membangunkan aku.
“sayang.. kita sudah sampai” aku membuka mata secara perlahan. “hhhmm.. oh.. sudah sampai”
Jawabku, masih mengantuk. Di susul dengan teman-teman lainnya bangun. Dan kami semua turun dengan hati riang. “andri.. tolong aku. Ini begitu berat” manjaku di hadapan andri. Lalu ia menolongku sambil tertawa kecil. Semua sudah kumpul.
“okay, lanjut jalan” semua menuju pendaftaran dan pendata barang yang di bawa private.
Kami mulai berjalan menyusuri bukit sampai masuk hutan, maendaki dan mendaki. Mengambil jalur selo. Sampai di pos 3, aku mulai kelelahan. Ini benar-benar lelah. Beda dengan gunung salak, pdpl masih datar. MT. Merbabu memang lebih tinggi dari gunung salak yang pernah aku daki. Di tengah hutan, aku berteriak ingin istirahat.
“andri.. aku lelah sekali” rintihku, dan aku deprok di atas tanah hutan. Andri menghampiriku.
“minum dulu” aku langsung meraih air mineral yang andri berikan padaku.
“aku lelah, andri”
“ya.. aku paham”
“ternyata gunung merbabu tidak semudah gunung salak” andri hanya tertawa kecil sambil membersihkan keringat di wajahnya yang sudah mengucur banyak sekali. Ia duduk tepat di sampingku. Andri memanggil semua teman-temannya untuk break sebentar.
“padahal ini belum ada setengahnya, ya. Tapi aku sudah terkapar kaya gini”
“wajar kok.. masih pemula”
Sambil istirahat, aku memeluk andri. Mungkin karena begitu lelahnya diriku. Aku peluk sambil berkata, “thank you very much, my sweet heart” andri merespon pelukanku.
Pelukan itu bukan pelukan negatif, namun pelukan ucapan terima kasih. Karena andri telah mengajarkanku banyak hal. Yang awalnya manja sekali, perlahan aku jadi lebih mandiri. Lelah ini, membuatku sadar, begitu berharganya waktu, dan selalu bersyukur untuk semua yang aku miliki dan lebih dekat dengan Tuhan.
“yaudah.. sekarang kita lanjut mendaki” Pelukan singkat itu berakhir, aku dan andri bangkit dengan penuh semangat ingin sampai pada tempat tujuan, yaitu puncak merbabu. Kita semua melanjutkan pendakian. Aku meraih tasku yang di bawa andri, karena tidak ingin merepotkan andri. Aku harus mandiri. Tidak boleh bergantung pada siapa pun.
“kamu yakin mau bawa ini?”
“iya dong.. harus kuat” ucapku dengan tangguh.
“good girl” kata andri sambil melemparkan senyuman manis di bibirnya.
Ke esokan harinya, tepat jam 4 pagi, aku menginjak puncak merbabu. Sungguh begitu indah ciptaan Tuhan. Lelahku terbayar sudah oleh pesona rona di puncak merbabu. Ku hayati dengan benar rona di hadapanku. aku berada di samudera awan. Andri pernah bercerita dan memperlihatkan foto dirinya berdiri di depan samudera awan. Memang indah.  Biasanya aku hanya mendengar dari mulut tentang samudera awan gunung-gunung tertinggi, hanya melihat dari foto saja. Dan sekarang, depan mata kepalku langsung aku menatap rona langit di MT. Merbabu. Ini perdana aku berhasil sampai di puncak paling tinggi yang pernah aku daki. (ya walaupun baru 2 kali mendaki) hehe.. tapi aku merasa sangat beruntung bisa berada di puncak ini. Aku dan andri mulai berfoto bersama. Pengalaman yang sangat mengesankan, trip bersama orang yang paling berharga.
Liburan selanjutnya, andri mengajakku ke gunung putri menggunakan motor besar. Andri selain anak motor, ia juga anak motor. Memiliki komuitas motor besar. Wow.. amazing :] butuh waktu 2 jam untuk menempuh perjalanan menuju gunung putri daerah sentul. Sampai masuk menanjak bukit dan turun lagi. Kita istirahat sejenak.
“masih jauh, ya?” kataku sambil melahap cemilan snack.
“sebentar lagi, sekita 15 menit lagi”
“yaudah lanjut jalan saja. Aku sudah tidak sabar ingin sampai tujuan”
“baiklah” kami melanjutkan perjalanan. Naik turun bukit dan jalanan yang rawa dan sepi, membuatku sedikit parno. Aku memiliki ide untuk memutar musik di ponselku, di loudspeaker agar andri ikut menikmati musiknya. Kebetulan sekali, aku dan andri suka lagu berbau ganre rock. Aku memutar lagu blink 182 – first date. Itu adalah lagu kejayaan kita berdua. Banyak cerita dan makna di dalam lagu itu. Kita nyanyi bareng, andri sambil membawa motor dengan semangat. Rasa lelah sedikit hilang. Sampai di tempat tujuan. Sebelumnya, harus bayar tiket masuk. Setelah itu, masuk ke dalam masih meggunakan motor. Ada turunan tinggi sekali.
“hati-hati, ndri” wanti aku. Perlahan turun, sampai pada akhirnya kita sampai pada tujuan. Andri memarkirkan motor terlebih dahulu, setelah itu kita jalan sebentar untuk menuju curug bidadari. Bukit besar terpampang jelas di hadapanku.
“ya ampun.. ini indah sekali. Tolong foto aku disini, ya” andri mengambil gambarku. Dan kita juga foto berdua menggunakan tongsis. Sampai di curug bidadari. Andri mengajakku untuk turun dan berdiri tepat di air terjun.
“ayolah.. tunggu apalagi?” kata andri.
“aku takut”
“kenapa takut? Kita jauh-jauh datang kesini. Masa hanya memandangi saja. Memangnya kamu puas tanpa merasakan sejuknya air terjun ini?”
“tapi aku beneran takut, andri” aku masih duduk di bebatuan jauh dari air terjun. Sedangkan andri? Ia sudah melepas sepatu, celana jeans. Karena dia sudah double memakai celana pendek untuk basah-basahan. Andri sudah berada di bawah air terjun, terlihat seru. Aku penasaran dan akhirnya aku putuskan untuk turun menyusul andri. Ku copot aksesories yang aku kenakan, sepatu dan celana jeans. Aku juga double pakai celana pendek. Aku juga sudah membawa baju ganti. Andri memegang tanganku dengan erat. Banyak bebatuan yang licin dan kaki terasa sakit, tapi lama-lama jadi biasa saja. Aku dan andri berada tepat di bawah air terjun. Aku teriak dan terkejut. “aaaaaaaaaaaaa.... aaaaaaa” teriaku dengan keras. Karena benar-benar susah napas dan harus kuat menahan runtuhan air terjun. Tapi lama-kelamaan jadi seru dan enak. Seperti di pijat pundakku. Hehe..

1 tahun kemudian.. aku lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) libur panjang.. senangnya!!
Aku memberi kabar pada andri bahwa aku punya banyak waktu untuk traveling.
“akhirnya.. lulus juga”
“maksudnya?”
“tidak. Tidak apa-apa”
“lalu kita mau trip kemana?”
“gunung rinjani”
“what?”
“tenang saja.. kamu pasti bisa sampai puncak”
“segitu yakinnya?”
“ya.. aku yakin kamu bisa. Dan disana aku mau memberi kejutan untukmu kalau kita berhasil sampai di puncak rinjani”
“kejutan apa?”
“ada deh. Penasaran ya?” ledeknya di dalam telepon.
“yaudah.. aku kerja lagi ya. Love you”
aku menutup ponselku. Dan masih penasaran tentang obrolan barusan. Andri mau memberi kejutan? Kejutan apa ya? Ungkapan andri tadi membuatku penasaran. Andri setiap saat memang selalu memberikan kejutan-kejutan yang begitu mengesankan. Aku tidak sabar menunggu kejutan itu datang. Sudah di hari yang di tunggu-tunggu. Aku dan andri berkemas dan berangkat untuk menuju gunung rinjani. Tidak lupa di iringi dengan doa.
Pendakian dimulai.. melewati beberapa pos.. dan akhirnya berhasil sampai tujuan. Harapanku dan andri tercapai, kini kita menginjak di puncak rinjani. Menggunakn jaket yang begitu super tebal. Menggunakan sarung tangan tebal, dan kupluk untun melindungi kupingku yang telah kedinginan. Andri tiba-tiba meraih jemariku dan ia pegang begitu erat. Sampai terasa hangat dan aku nyaman ketika andri memegangnya. Andri mengeluarkan satu lembar kertas yang bertuliskan. Will u mary me? Aku terkejut. Hanya menatap andri.
“di puncak rinjani, yang telah menjadi saksi. Apakah kamu mau melengkapi hidupku? Menghabiskan waktu bersamaku, menjadi ibu dari anak-anakku? Menikmati keindahan alam ini bersama keluarga kecil kita nant?” ungkap andri dengan menghayati. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin berlian yang indah sekali.
“tapi aku baru saja melepas masa SMA. Secepat inikah?”
“ya.. aku tahu. Anggap saja aku baru melamar kamu”
“aku bangga sama kamu, kamu pria terhebat bagi aku. Kamu mengajarkanku banyak hal lewat mendaki. Bagaimana mencintai alam, bagaimana menghargai waktu dan bagaimana cara bersyukur. Dari yang aku manja banget. Sampai aku seperti ini. Aku berada di gunung tertinggi bagi aku. Perjalanan yang sangat mengagumkan. Tidak hanya itu, kamu juga bisa menjadi imamku. Kita shalat bareng dimana kita berada. Di tengah perjalanan mampir untuk shalat dan di atas puncak gunung kita pun shalat bersama. Aku mau menghabiskan waktu bersamamu” ungkapku.
“kamu serius?”
“ya” Andri langsung memasangkan cincin di jari manisku. Gunung rinjani-lah yang telah menajdi saksi bisu, tentang sejarah ini. Sejarah dimana andri melamarku. “kita habiskan waktu bersama, susah senang seperti halnya saat kita mendaki. Lelah bersama dan bahagia bersama. Menatap rona langit bersama. Menghabiskan waktu bersama alam untuk lebih dekat dengan Tuhan” ungkapan andri terakhir itu buat aku terharu dan bangga. Dan disitu kita menikmati keindahan puncak rinjani dengan penuh rasa syukur.




( blog post ini di buat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Awesome journey" diselenggarakan oleh yayasan kehati dan nulisbuku.com )

1 comment:

  1. blog post ini di buat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Awesome journey" diselenggarakan oleh yayasan kehati dan nulisbuku.com

    ReplyDelete