Saturday, 30 April 2016

komunikasi itu prioritas utama





Aku percaya Jika cinta benar menguatkan hati. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa bertahan selama ini? karena saat itu aku selalu ingat bahwa hati tidak pernah salah. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Mungkin saja ku akan bertahan sampai menjelang pergantian tahun demi tahun. berjalan bersama harapan kosong, Berdiri hanya dengan bayangan-bayangan dirimu, Terjatuh dalam kegelapan, tenggelam dalam keraguan, itu sangatlah menyakitkan. Tidak mudah menjadi manusia seperti itu. tapi aku tidak peduli.
tidak ada alasan mengapa aku begitu. Ya.. tidak ada...
Entahlah.. ketika aku mengingatmu, ketika aku berbicara denganmu, aku bangkit dan tersenyum kembali.
Walau aku tahu kalau apa yang sudah ku jalani itu hanya menyiksa diri sendiri saja.
Ketika aku di datangkan rasa rindu, ku hanya bisa memojokkan diri dalam kesendirian tanpa kau tahu apa yang ku lakukan disana. Aku memilih diam demi menahan ego dalam diri. ego yang akan bisa menghancurkan harapan dan pembicaraan di antara kita yang sudah aku bangun selama ini. terkadang rasa penasaran yang begitu antusias menghantuiku. Apa yang sedang kau lakukan disana? Aku pernah berusaha ingin menjauh darimu namun lagi lagi aku gagal dan kembali menjadi manusia pecundang yang hanya diam memendam rasa. Sempat terpikir, seharusnya kita tidak saling mengenal, seharusnya kita tidak saling berbicara, seharusnya kita tidak saling tertawa, seharusnya kita tidak begini. Kita sama-sama terluka tapi dengan cara diam satu sama lain. Untuk apa semua ini? kalau kita malah tetap seperti orang yang saling tidak kenal. Kita saling membuka hati tapi tidak saling memiliki. Itu sia-sia..
Ditengah jalan aku ingin memperjelas status. Namun sikapmu dan sikapku mengubah segalanya. Semakin lama perasaanku semakin aneh. aku tidak lagi memikirkan mau dibawa kemana hubungan yang tidak jelas ini. 

 rasa sakit dihati akibat memendam rasa kini berubah menjadi hambar. Aku tidak lagi seperti dulu. Mempertontonkan egomu membuat pemikiranku jauh lebih dewasa. Kini aku bisa merasakan menjadi manusia seutuhnya walau masih di ambang sebuah harapan tapi tidak seantusias dahulu. Terima kasih berkat sikapmu aku telah menjadi manusia yang jauh lebih ikhlas dalam perasaan. Aku datang dan kau membuka pintu, dan aku pergi tanpa kau tahu. Karena pintu hatimu tidak pernah dikunci sejak pertama kita kenal. Dan aku pergi keluar dari hidupmu tanpa kau sadari. Mungkin kau menyadarinya tapi tidak kau tunjukkan. Mungkin kau juga merasakan sakitnya sepertiku ini. tapi tidak kau umbarkan. Dan aku memahami itu. itulah dirimu. Itulah sikapmu. Selalu diam apapun yang terjadi. Tetap diam meski mengalami luka. Aku datang kau malah menjauh. Aku menjauh kau bersikap seakan-akan semua ini salahku. Aku memutuskan memilih diam menikmati rasa sakit dihati. Memilih diam agar kau menyadari bagaimana rasanya kehilangan. Tapi itu sia-sia. Kau tetap seperti ini. justru egomu semakin kuat. Tidak tahu lagi bagaimana menjadi seseorang yang berarti untukmu. Otakku sudah mulai tidak bisa lagi berpikir.
Aku sekarang diam, aku diam bukan berarti aku melupakanmu. Aku hanya sedang lelah..
Tapi aku sadar, aku tidak pernah menyesal sama sekali tentang perkenalan dan pembicaraan kita selama ini. karena ini semua adalah bentuk proses pendewasaan dalam hidup. komunikasi itu adalah prioritas utama. Tapi kita tidak bisa melakukan komunikasi yang baik.
Sekarang kita punya dua pilihan untuk memperbaiki keadaan :
Kita bisa mengubah sikap dan lebih memperhatikan keberadaan dan saling menghargai, mungkin kita bisa kembali seperti dulu. atau...
Masih tetap menjadi yang sekarang lalu kita harus berpisah selamanya.
sepertinya kita perlu waktu untuk interopeksi diri. kita perlu waktu untuk sendiri dan berpikir. Mungkin dengan cara kita berpisah kita bisa menjadi manusia seutuhnya dan kembali bersatu dengan sikap dan pemikiran yang baik..


                                                                                     from, defi
                                                                                                                                                                                                                                                                                                        
                                                                                     untukmu disana..

No comments:

Post a Comment